Merpati airlines telah meninggalkan landasannya, yang menandakan bahwa aku kini akan meninggalkan Jakarta menuju Papua. Tekadku sudah bulat ketika memutuskan untuk meninggalkan suamiku dan keluarganya. Aku hanya ingin membuktikan bahwa wanita yang terlahir bukan dengan kesempurnaan utuh bisa menjadi begitu berharga bagi orang lain. Kutinggalkan semua hiruk pikuk dunia kebebasan semu yang membuatku merasa semakin tampak lemah karena kekuranganku.
Mas, maafkan aku yang sudah membuatmu merasakan kekecewaan yang dalam karena pernikahan kita yang tidak membuahkan janin di rahimku. Aku sudah rela untuk kau cerai dan aku siap pergi dari hidupmu. Aku tahu kau sangat mencintaiku dan kaupun tahu bahwa aku pun sangat mencintaimu. Tapi apalah arti kebahagiaan cinta kita kalau tidak hadirnya buah hati yang menangis di dekapan, berlari mengejar kita seraya berucap “ayah, ibu”.
Maafkan aku Mas jika keluargamu membuat hatimu merasa terusik karena memang hanya seorang anak dari rahimkulah yang mereka inginkan untuk meneruskan perusahaanmu. Aku terlahir dengan kekurangan yang merupakan ketakutan setiap wanita di dunia ini. Aku harus akui bahwa aku mandul, Mas. Aku tidak bisa memberikan pangeran kecilmu.
Mas, kini aku rela untuk kau cerai. Nikahilah wanita pilihan ibumu. Aku sudah bertekad untuk keluar dari hidupmu dan akan mencari dunia baruku di tempat yang mungkin takkan kau ketahui. Dan aku akan membuktikan bahwa aku bisa berguna untuk orang lain, dan kekuranganku tak akan menghambat keinginanku untuk mengabdikan diri kepada mayarakat.
Karindah
Itulah isi surat yang kuberikan kepada Mas Henry sebelum akhirnya kami resmi bercerai. Setelah penandatangan surat cerai maka aku pun segera meninggalkan Jakarta menuju Papua. Papua? Ya, tempat paling timur di Indonesia itulah yang kupilih untuk mengasingkan diri dari segala cemoohan orang-orang yang menjatuhkanku. Jika mereka mengetahui isi hatiku, aku pun tak ingin mempunyai kekurangan ini. Sungguh tersiksa menjalani kehidupan ini. Berpisah dengan orang yang dicintai. Maafkan aku, Mas Henry. Tak terasa air mataku menetes kembali.
Setibanya di Bandara Torea, aku langsung meluncur menuju Desa Klapot Sorong Papua. Desa ini pernah kubaca di artikel sebuah koran nasional. Sangat tertinggal pendidikan di sana. Hal ini memberikan tantangan tersendiri kepadaku untuk memajukan masyarakatnya di bidang pendidikan. Dengan bermodal sebuah peta dan alamat desa tersebut, aku nekad menyusuri jalanan dan memasuki hutan yang terkadang membuatku takut.
Kini aku sudah berdiri di pintu perbatasan Desa Klapot Sorong Papua. Aku tertegun melihat kondisi desa yang masih primitif. Aku berjalan dengan pelan dan memeperhatikan satu persatu rumah di desa tersebut. Tiba-tiba aku berhenti di depan rumah yang terdapat seorang wanita, laki-laki, dan seorang anak kecil yang berada di pangkuan wanita tersebut. Keluarga yang bahagia sepertinya. Ingatanku melayang kembali ke masa pertama kali Mas Henry membawaku masuk ke rumah yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri. Rumah yang sangat mewah menurutku. Kami hanya hidup berdua di dalamnya. Kami merasakan kebahagiaan yang hampir dirasakan oleh seluruh pengantin baru. Berhari-hari kami habiskan waktu dengan romantis dan tiada hari tanpa mengungkapkan rasa sayang kami satu sama lain.
Tapi kemudian petaka itu tiba. Di bulan ketiga pernikahan kami, tiba-tiba aku merasakan sakit perut yang tak tertahankan padahal aku sedang tidak haid. Lalu Mas Henry mengajakku untuk memeriksakannya ke dokter. Dan kenyataan pahit yang harus ditelan oleh kami berdua. Aku menderita kanker rahim dan divonis tidak akan bisa mempunyai anak.
Setiap hari aku menangis. Aku bukan menangisi nasibku tapi aku merasa bersalah kepada suamiku dan keluarganya. Aku tahu bahwa ibu Mas Henry amat menginginkan segera menimang cucu karena Mas Henry adalah anak tunggal dan jika mereka mengetahui bahwa Mas Henry tidak akan memiliki keturunan karena menikahiku maka aku akan segera disingkirkan dari keluarga mereka. Itulah yang menjadi ketakutanku setiap hari tatkala aku melihat foto pernikahan kami yang terpajang di ruang tamu.
___@@@___
Kuberanikan untuk menyapa mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia karena aku tidak bisa berbahasa Papua. Mereka tampak kaget, mungkin karena perawakanku yang berbeda dengan mereka. Dengan ekspresi yang agak hati-hati mereka menjawab sapaanku. Lalu aku mencoba menimang putri kecilnya dan mereka terlihat sudah mulai untuk menerima kehadiranku. Kutanyakan di mana ketua adat ataupun kepala desa mereka tinggal. Lalu segera aku bergegas menuju ke rumah ketua adat dan mengutarakan maksud kedatanganku. Ia sangat antusias dan mempersilakan aku mau tinggal di mana saja. Aku memutuskan untuk membuat rumah sendiri. Dengan dibantu warga desa, rumahku pun sudah jadi. Kecil dan berlantai tanah, hanya bisa untuk tidur saja. Aku pun ganti baju dan segera berbaur dengan warga sekitar. Kemudian aku mencari air karena aku tahu sekarang sudah masuk waktu Ashar.
Malam pun tiba dan aku sempatkan untuk mngunjungi keluarga yang kutemui siang tadi. Mereka sangat ramah dan tampaknya ingin banyak menanyakan segala sesuatu yang belum mereka ketahui. Hal ini dapat kurasakan tatkala mereka sangat antusias dalam menyimak segala informasi yang kusampaikan. Mereka mulai bertanya tentang kehidupan di kota, tentang televisi yang pernah mereka lihat di puskesmas di desa seberang, dan tentang internet. Dari sinilah aku mulai merancang apa saja yang akan kuajarkan kepada warga Desa Klapot Sorong Papua. Mulai dari membaca, menulis, dan berhitung serta akan kusisipkan ajaran Islam karena Islam adalah agama umat manusia yang berasal dari Allah SWT.
___@@@___
Aku mulai mengumpulkan anak-anak warga Desa Klapot Sorong Papua untuk belajar. Aku membagikan alat tulis dan buku yang sudah kubawa dari Jakarta dengan stok yang lumayan banyak. Mereka kuajarkan pengenalan huruf dan siangnya kuajarkan pengenalan angka dan cara pelafalannya. Harus dimulai dari hal-hal yang sederhana agar mereka lebih paham dan selalu kusisipkan kata Allah di setiap pelajaran. Tapi aku tidak akan melanggar HAM dengan mengajarkan Islam kepada mereka karena mereka memang tidak mempunyai agama dan bahkan tidak tahu apa itu agama dan Tuhan.
Hari-hari kini berganti bulan dan aku sudah sampai pada tahapan pembentukan kepribadian anak muridku. Mereka sudah pandai berhitung perhitungan sederhana dan sudah bisa membaca lancar. Pada tahap pembentukan kepribadian, kuajarkan tata cara tingkah laku manusia agar dapat diperlakukan sebagai manusia. Kuajarkan cara berpakaian, makan, dan berbicara dengan baik dan benar. Ini sangat sulit karena mereka berada di lingkungan yang memang kurang mendukung. Seharusnya orang tua mereka pun diberikan pelajaran ini. Namun, ketua adat menolak dengan alasan mereka lebih tua dariku sehingga mereka tidak perlu diajari lagi. Sebagai warga pendatang maka aku pun mengikuti permintaan mereka.
___@@@___
Karin, kamu dimana sayang? Sudah satu tahun kamu pergi begitu saja sejak penandatanganan surat cerai kita. Keluh Henry dalam hati. Rasa cinta yang terlalu mendalam dirasakan oleh Henry kepada Hani. Besok Henry akan pergi meninggalkan Jakarta untuk keperluan tugas kantor. Henry kini telah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki dari seorang wanita bernama Cindy, jodoh yang dipilih oleh ibunya. Satu bulan setelah perceraian Henry dan Hani, ibunya segera melamar Cindy untuk Henry. Dan kini mereka mempunyai seorang anak laki-laki berumur 1 bulan.
Henry sangat menderita dengan kepergian Karin. Ia sangat frustasi setelah ibunya menyuruhnya untuk menikah kembali dengan wanita pilihan ibunya. Cindy. Henry sudah tahu tabiat Cindy, karena itulah ia lebih memilih untuk menikahi Karin. Cindy sangat matrealistis dan menikahi Henry hanya ingin menguasai hartanya saja, bukan atas dasar cinta dan kasih sayang.
___@@@___
“Bu, ini apa?” Tanya Obeth, salah seorang anak murid Karin sambil menunjukkan sebuah buku tebal bersampul warna keemasan.
“Itu namanya Al Quran, Obeth. Itu kitab suci umat Islam. Dulu pernah ibu guru ceritakan, kan? Obeth lupa ya?”
Obeth hanya tersenyum lebar dan mengangguk. Ia merasa malu karena tidak memperhatikan apa yang diajarkan gurunya.
“Anak-anak, besok kita akan kedatangan tamu. Teman ibu dan kalian harus sopan ya. Ingat dengan apa yang pernah ibu ajarkan dulu. Apa coba?”
“Harus pakai baju, celana, dan alas kaki. Bawa buku dan pena.” Jawab mereka serempak.
Keesokan harinya Karin dan seluruh anak muridnya menuju ke lapangan luas. Di sana mereka menunggu helikopter yang membawa tim wartawan untuk meliput kemajuan daerah pelosok Papua sambil membawa bantuan berupa makanan, selimut, obat-obatan, dan alat-alat tulis. Ketika mereka turun dari helikopter, anak-anak murid Hani segera berebut untuk bersalaman dan membawa apa saja yang bisa mereka bantu.
“Bagaimana Mbak dengan keadaan Desa Klapot Sorong Papua? Katanya listrik sudah masuk dan sumber air sudah dekat dengan rumah-rumah penduduk.” Ujar seorang kepala rombongan.
“Alhamdulillah Pak. Waktu itu saya dan beberapa perangkat daerah kecamatan mengajukan usul proposal kepada Pemerintah Provinsi Papua untuk menyediakan aliran listrik dan sumber air sehingga kami di sini lebih sejahtera. Mari Pak, kita berjalan sekitar 45 menit dari sini menuju Desa Klapot Sorong Papua.” Ujar Karin.
Setelah kami sampai di desa, mereka langsung meliput dan mewawancarai beberapa warga desa. Warga Desa Klapot Sorong Papua kini bermata pencaharian sebagai petani sayur sangat sejahtera karena mereka telah mempunyai pekerjaan yang mendatangkan uang bagi mereka untuk bisa menghidupi keluarganya. Baru-baru ini terdengar kabar bahwa Pemerintah Provinsi Papua akan membuat sebuah gedung sekolah dasar, puskesmas, dan pasar yang akan ditempatkan di desa kami. Kami menyambutnya dengan gembira dan aku pun ditunjuk sebagai pengelola sekolah sementara sebelum akhirnya akan ditempatkan guru-guru dari kota untuk mengajar di sana. Ini semua berkat kerja keras perangkat desa dan juga keinginan masyarakat yang ingin berubah.
Setelah seharian melakukan pengamatan langsung di desa kami, tim wartawan pun pamit dan tak lupa aku dan anak-anak muridku berfoto bersama untuk mengabadikan kebersamaan kami walau hanya satu hari.
___@@@___
“Mas, nanti Cindy minta uang ya buat beli keperluan Rio.” Bujuk Cindy.
“Bukannya kemarin lusa sudah Mas kasih uang untuk beli susu. Kok malah nambah lagi. Kamu jangan boros ya! Mas ini mencari uang bukan untuk dihamburkan begitu saja. Kamu shopping, arisan, makan di luar. Semua memakai uang Mas. Heran, kenapa Mami mau memilih kamu untuk jadi pendamping hidupku. Walau kamu cantik dan penuh dengan kesempurnaan wanita tapi kamu tidak akan bisa merebut hatiku.”
“Tapi yang terpenting aku bisa menghasilkan keturunan bagimu, Mas. Dan Mas harus bayar semua itu dengan harga yang mahal. Ya, anggap saja Mas membeli anak yang aku keluarkan dari rahimku untuk Mami. Sudahlah Mas, aku ini kesayangan Mami dan Mami sudah pernah bilang bahwa aku bebas memiliki apa saja yang aku inginkan dan termasuk uangmu.” Ujar Cindy.
Henry hanya menggelang-gelengkan kepala melihat sikap Cindy yang mau menang sendiri. Ia kemudian mengeluarkan cek kosong yang ia berikan kepada Cindy. “Isilah berapapun yang kamu mau. Kamu mau ambil seluruh harta milikku pun tak apa kecuali Rio. Kau tadi bilang bahwa anggap saja aku membeli anakmu. Baik, ia kubeli dengan seluruh harta kekayaanku dan tak usah lagi kau mengasuhnya.” Kata Henry dengan wajah garang yang membuat Cindy kaget karena tidak pernah Henry sedemikian marahnya.
___@@@___
“Ini artikel untuk minggu ini tentang perjuangan seorang wanita untuk memajukan daerah pelosok. Dan ini juga fotonya bersama dengan anak-anak murid asuhannya.” Kata seorang wartawan yang meliput Desa Klapot Sorong Papua kepada pimpinan redaksinya.
“Hmm… Sungguh luar biasa wanita ini. Berani melepaskan segala hiruk pikuk gemerlapan kota Jakarta untuk memajukan daerah pelosok di Papua. Muat di halaman pertama.”
“Baik, Pak.”
___@@@___
“Karin? Inikan foto Karin ? Tapi… Apa Papua? Jauh sekali ia pergi.” Ujar Hanry terkejut dan masih tidak percaya membaca koran yang ia dapatkan pagi ini.
Lalu ia menelpon pimpinan redaksi koran tersebut dan meminta nomor handphone wartawan yang meliput berita itu ke Papua. Ia segera bergegas memesan tiket pesawat untuk ke Papua menyusul Karin. Dan hari itu juga ia berangkat.
Sesampainya di Bandara, ia segera mencari alamat Desa Klapot Sorong Papua yang telah diberikan kepadanya. Dan tanpa waktu yang lama, ia berhasil mendapatkan desa tersebut. Ia tertegun melihat Karin yang sedang mengajarkan iqro’ kepada beberapa orang muridnya di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Ia dekati perlahan dan kemudian menangis. Mendengar ada orang yang menangis, Karin pun menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ketika ia melihat Hanry telah berada di dekatnya.
“Mas Henry. Kenapa Mas ke sini? Dan tahu dari mana kalau Karin ada di sini?”Tanya Karin heran.
“Karin. Aku sangat rindu kepadamu. Aku masih sangat mencintaimu dan sangat tersiksa atas keputusanmu bercerai denganku. Tidakkah kau lebih bersabar dan memberikan waktu untuk kita mengobati penyakitmu? Kembalilah ke sisiku, Rin. Kita akan mulai hidup baru dan kita akan pergi jauh dari keluargaku biar tidak ada orang yang akan mencemoohkanmu.”
Karin pun menangis. Ia tidak bisa berkata apa-apa karena ia pun sangat rindu kepada Henry. Sudah hampir 2 tahun berlalu tapi ia masih menyimpan harapan untuk kembali bertemu dengan Henry. Sementara itu anak-anak muridnya bingung melihat keadaan Karin yang menangis. Mereka kemudian dipanggil oleh orang tua mereka karena orang tua mereka mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada Karin sekarang ini dan ingin membiarkan Karin dan Henry berbicara empat mata.
“Mari kita pulang Karin. Aku janji akan menjagamu dan menyayangimu walau kita tidak mempunyai seorang anak.” Bujuk Henry.
“Tidak, Mas. Aku tetap di sini dan ingin membangun desa ini. Orang-orang di sini sudah kuanggap keluarga yang dapat menerima kelebihan dan kekuranganku sebagai seorang wanita.” Tolak Karin lembut.
“Kalau begitu, Mas juga ikut tinggal di sini.”
Karin terkejut dan mengarahkan pandangannya ke Henry. “Mas, apa yang akan Mas lakukan dengan Cindy? Meninggalkannya begitu saja? Tidak Mas. Janganlah pergi mencariku dan kemudian meninggalkannya. Aku akan merasa berbahagia di atas penderitaan orang lain. Sebaiknya Mas pulang saja ke Jakarta. Anak Mas sangat membutuhkan kehadiran sosok ayah yang baik seperti Mas.”
“Tapi, Rin….”
“Gak perlu ada tapi. Mas pulang saja ke Jakarta dan biarkan aku di sini mengabdikan diri untuk masyarakat.”
Henry yang sudah kehilangan akal untuk membujuk Karin. “Tapi izinkan Mas untuk tinggal di sini untuk beberapa hari.” Karin pun mengangguk. Henry disambut baik oleh kapala adat dan mempersilakannya untuk tinggal selama 3 hari di rumahnya.
Tibalah keberangkatan Henry ke Jakarta. Karin hanya bisa mengantar sampai ke lapangan tempat helikopter lepas landas karena Henry akan pulang dengan menggunakan helikopter. Setelah Helikopter menghilang dari pandangan Karin, ia menangis sejadi-jadinya karena ia ingin melampiaskan rasa perih di hatinya karena ia kembali menghadapi kenyataan berpisah dengan Henry. Namun, ia tetap akan berjuang dan selalu berjuang untuk menjadi wanita sempurna dan akan mengabdikan ilmu dan hidupnya untuk masyarakat. Dia yakin, jika ia memang berjodoh dengan Henry, maka Allah pun akan mengizinkannya untuk bersatu kembali. Kini dia kan terus melangkah melanjutkan cita-cita Sang Kartini.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar