Jumat, 18 Maret 2011

Mendung di Hati Erika

Aku masih terpaku melihat mukena di etalase sebuah mal di Palembang. Mukena yang indah, gumamku. Pasti ibu sangat senang kalau kuhadiahkan mukena ini. Namun, kukuburkan dalam-dalam keinginan itu karena di sudut bawah mukena itu terselip angka Rp 320.000.
“Erika, ayo cepat pulang!!” Teriak Dina, sahabatku.
Dengan segera kuberlari sambil membawa dua buah kantong hitam besar di kedua tanganku yang berisi kue-kue buatan ibuku yang akan dititipkan di salah satu food corner di mal itu.
“Kamu ini masih suka ngayal,” ujar Dina mencibirku.
“Yee… ini bukan hayalan tapi impian. Impian seorang Erika Maya Sari yang ingin membahagiakan ibunya, haa…” Jawabku menghibur diri.
“Kayaknya tanam aja deh impian kamu itu di tanah belakang rumah alias dikubur!! Isi dulu tuh perut baru ngejer impian. Ngejer impian tapi 3 hari kemudian mati kelaparan, apa mau? Kita ini emang ditakdirkan gak akan pernah bisa mencicipi ‘jamuan’ enak dunia,” kata Dina.
Aku hanya menghela nafas.
“Udah ah, jangan pesimis melulu. Sekarang cari rejeki untuk hari ini. Tuh, Mbak Aci udah nunggu,” ujarku sambil menuju ke food corner tersebut.
Di sana, Mbak Aci, Sang Manajer telah menunggu kedatangn kami. Sambil tersenyum, ia berkata “Akhirnya datang juga kalian. Hari ini kok lama sekali?”
“Ini nih Mbak, Si Erika ngayal lagi di depan etalase mukena di lantai dua,” sindir Dina sambil melirikku.
Aku hanya bisa tersenyum saja mendengar ucapan Dina. Semakin banyak aku mendengar nada pesimisnya, semakin kuat tekadku untuk membuktikan padanya bahwa aku bisa mewujudkan impian itu.
“Ini Mbak, kami bawa lumayan banyak. Tiga hari ke depan kan long weekend. Selasa Insya Allah kami ke sini lagi” Ujarku.
“Oke deh. Hmm… kayaknya enak-enak nih kuenya kali ini. Pasti laku keras.” Puji Mbak Aci.
“Amin, Mbak. Lumayan buat ditabung kalo memang banyak untungnya.”
“Ditabung buat apa, Erika?” Tanya Mbak Aci.
“Buat masuk universitas bareng Dina. Ya kan, Din?”
“Eh, i… ya Mbak. Buat masuk universitas tahun depan.” Ujar Dina terkejut.
“Wah… Wah… Udah pada mau kuliah nih. Mbak doain semoga kalian sukses masuk universitasnya,” Ujar Mbak Aci yang diamini olehku dan Dina. Kami pun segera pamit.
----<<<@@
“Ibu… Ibu… Kemana ya ibu?” Ujarku sesampainya di rumah.
Kucari ibu di setiap sudut rumah kami yang sederhana, namun tetap tidak ada. Kemana ya ibu, gumamku. Di meja makan sudah tersedia menu untuk makan malam dan masih panas. Berarti ibu baru saja selesai masak. Aku pun menunggu ibu sambil duduk di teras rumah kami yang menghadap ke lapangan sepak bola. Di sana masih banyak anak-anak kecil yang bermain sepak bola walau hari sudah mulai gelap.
Sudah 15 menit aku menunggu tapi ibu belum juga datang. Tidak biasanya ibu seperti ini. Perasaanku pun tidak tenang. Aku mengalihkan rasa was-wasku dengan membaca buku pelajaranku. Tapi tetap saja tidak fokus. Sekarang sudah pukul 17.50 WIB.
Aku bergegas ke rumah Dina yang terletak di depan jalan. Dina tinggal bersama neneknya karena ia seorang yatim piatu sejak 5 tahun yang lalu. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan kereta api ketika hendak kembali ke Jogjakarta. Namun, untunglah Dina masih bisa diselamatkan walau sempat 3 hari koma di rumah sakit. Sesampainya di depan pintu rumah Dina, terdengar suara tangisan Dina. Aku pun mengurungkan niatku untuk meminta bantuannya karena aku telah paham bahwa Dina menangis pasti sedang teringat kedua orang tuanya. Tidak ada kepedihan di dalam hatinya kecuali kematian kedua orang tuanya.
Aku pun pulang ke rumah sambil berharap ibu sudah menunggu di sana. Tapi ibu masih belum pulang juga. Aku semakin cemas.
---<<<@@@
Seusai sholat Maghrib, kulangkahkan kakiku ke rumah Dina. Aku ingin meminta bantuannya untuk mencari Ibuku. Tapi di tengah jalan menuju rumah Dina, tiba-tiba Bu Nani menghampiriku dengan tergopoh-gopoh.
“Erika… Erika… “ Teriak Bu Nani.
“Ada apa, Bu?” Tanyaku cemas.
“Ibumu… Barusan tadi ada yang kasih tahu kalau ibumu ada di rumah sakit sekarang. Tadi ia ditemukan pingsan. Kamu mau ke sana sekarang bareng sama Ibu saja.”
Aku tak sempat lagi berkata-kata, air mataku langsung menetes. Kami segera menuju ke rumah sakit. Aku sangat mencemaskan ibu.
Sesampainya di rumah sakit, ibu sudah siuman. Aku langsung mendekap tangan ibu, seakan tak ingin kehilangan tulang punggung keluarga itu.
“Ibu… Ibu tadi pergi kemana? Rika cemas.” Ujarku dengan berurai air mata.
Ibu hanya tersenyum dan membelai kerudung hijauku lalu berkata, “Erika sayang, tidak usah mencemaskan ibu. Kelak harus bisa jaga diri, mungkin ibu tidak bisa lama menemani Erika.”
“Kenapa ibu bilang seperti itu? Ibu jangan tinggalin Erika sendirian. Ibu mau kemana?”
“Erika sayang, jangan menangis. Ibu jadi sedih nanti. Kamu harus bisa mendapatkan beasiswa ke universitas negeri. Ibu tidak ada biaya untuk kuliahmu. Maafkan ibu, Nak. Ibulah yang patut disalahkan karena ibu tidak bisa memberikan yang terbaik selama Erika bersama ibu.”
Air mata ibu pun jatuh dari kedua sudut matanya. Aku sungguh tidak tahan melihatnya. Aku masih tidak mengerti kenapa ibu berkata demikian seolah-olah akan meninggalkanku sendirian di sini. Tiba-tiba seorang dokter menghampiriku dan mengajakku ke ruanganya. Sepertinya ada masalah serius yang hendak disampaikan.
“Begini, Dek….”
“Erika..”
“Oh ya, begini Dek Erika. Bu Aminah sebenarnya sudah lama mengidap kelainan jantung. Dan sekarang sudah bertambah parah. Kemungkinan untuk bertahan hidup sudah tidak lama lagi namun kita serahkan kepada Allah saja keputusan akhirnya. Saya harap Dek Erika tabah.” Ujar dokter.
Tubuhku serasa hendak jatuh ke lantai. Sulit kumenerima apa yang kini terjadi pada diriku. Ibu mengidap penyakit jantung dan aku tidak tahu akan hal itu. Anak macam apa aku ini yang tidak mengetahui penyakit yang diderita oleh ibunya sendiri. Tak tahan lagi aku menahan air mata dan kini kuhanya bisa pasrah. Bu Nani memeluk seerat-eratnya. Beliau ternyata sudah mengetahui penyakit yang diderita ibu tapi ibu melarang untuk menceritakan kepada siapapun, khususnya aku. Ibu tidak ingin menambah beban pikiranku. Di saat seperti ini aku merindukan ayah. Ingin aku menangis di dekapannya.
“Sabarlah, Rika. Ibumu sudah berjuang sekuat tenaga menahan sakit yang dideritanya demi melihatmu tersenyum setiap hari. Temuilah ibumu sekarang tapi usaplah dulu air matamu, jangan sampai ibumu melihat kau menangis.” Hibur Bu Nani.
Aku mengangguk dan segera mengusap air mataku. Kemudian kami berjalan menuju ke ruangan tempat ibu dirawat.
“Erika, ibu mau pulang ke rumah sekarang, Nak.” Pinta ibu.
“Silakan saja, Bu…” Ujar dokter yang seketika itu telah berdiri di belakang Erika. “Bu Aminah harus jaga kondisi tubuhnya nanti pingsan lagi. Kan kasihan Dek Erika.”
“Baik, Dok.” Jawab ibu sambil tersenyum.
Aku pun memapah ibu menuju keluar. Kami pun pulang dan dengan segera kubaringkan ibu di atas tempat tidur. Bu Nani pun pamit. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Bu Nani yang telah menolong keluarga kami.
“Nak, ibu mau sholat Isya’ dulu baru istirahat.” Pinta ibu.
“Kita sholat berjamaah atau tidak, Bu?” Tanyaku.
“Iya, Erika. Kita sholat berjamaah seperti biasa. Ibu masih kuat. Tapi kali ini kamu yang jadi imamnya.”
Aku pun memapah ibu untuk mengambil air wudhu. Kami pun sholat Isya’ berjamaah dan kali ini aku yang menjadi imam ibuku. Seusai mengucapkan salam, aku pun memimpin doa. Dan ketika aku menoleh ke belakang, kulihat ibu masih bersujud. Perasaanku agak sedikit was-was. Aku masih menunggu ibu untuk segera bangun dari sujudnya. Tapi ibu masih belum beranjak. Kusentuh bahu ibu dan seketika itu badan ibu tersungkur ke lantai.
“Ibuuuu… Ibuuu… Jangan tinggalin Erika. Ibuuu…”
Aku merasakan dunia ini gelap dan sunyi seakan-akan alam pun ikut bersedih atas kepergian ibu. Aku menangis sejadi-jadinya. Kemudian aku berlari ke rumah Dina dan memintanya ke datang rumahku. Dina tak kuasa menahan tangis melihatku sangat kehilangan ibuku. Ia menangisi keadaan kami berdua yang kini sama-sama yatim piatu. Tetangga pun berdatangan karena tangisanku yang terdengar sampai ke rumah mereka.
“Ibu… Kenapa ibu meninggalkan Erika sendirian. Ibu… Erika mau ikut ibu pergi. Ibu…” Ratapku melihat mayat ibuku yang sudah diberi kain penutup.
Para tetangga membaca surah Yasin dan aku pun ikut serta walau dengan suara yang parau. Sungguh masih sulit untukku menerima cobaan dari Allah ini. Esok pukul 9 pagi ibu akan dimakamkan di pemakaman umum di dekat rumahku.
---<<<@@@
Lima hari sudah ibu meninggalkanku. Aku masih diliputi rasa kesedihan yang mendalam. Kini aku hidup sendirian, tanpa kedua orang tuaku. Aku mulai membenahi barang-barang kepunyaan ibu dan memindahkannya ke dalam kardus besar. Seluruh pakaiannya besok akan aku sumbangkan ke sebuah yayasan social untuk disalurkan kepada yang memerlukan. Ketika membereskan buku-buku ibu, tiba-tiba terlihat olehku setumpuk surat. Aneh rasanya kenapa ada banyak surat padahal ibu tidak pernah mengirim surat kepada temannya. Kubuka satu pesatu surat-surat itu dan ternyata sura-surat itu adalah curhatan hati ibu tentang ayah seolah-olah ibu sedang bercerita kepada ayah tentang keadaan kami melalui surat tersebut.
Kubaca dengan teliti hingga tidak ada satu kata pun yang terlewati. Salah satu surat tersebut memberikan gambaran keadaan ayah sekarang. Ayah masih hidup. Sekarang ayah sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Kuambil surat tersebut dan aku pun langsung bergegas menuju alamat rumah sakit jiwa tempat ayahku dirawat. Kutanyakan nama Yahya Zein Umar apakah masuk dalam daftar nama pasien di rumah sakit tersebut. Dan ternyata benar. Aku langsung deg-degan, apa benar ayahku masih hidup dan tinggal di rumah sakit ini sejak 3 tahun yang lalu. Tapi kenapa ibu tidak menceritakannya kepadaku.
“Mari sini Dek, saya antar ke ruangan Pak Yahya.” Kata suster itu sambil tersenyum ramah. Kuperhatikan satu persatu wajah-wajah pasien di setiap kamar-kamar yang kami lewati dan mereka semuanya bertingkah laku seperti anak kecil dan sangat aneh. Apa ayah juga seperti mereka, pikirku.
“Ini Dek yang namanya Pak Yahya Zein Umar.” Kata suster itu ketika membuka salah satu pintu kamar di pojok kiri jalan.
Air mataku hendak tumpah karena terharu dan segera aku berlari dan memeluk ayah. “Ayaaah… Ayah masih hidup. Ya Allah aku masih punya ayah, aku bukan yatim piatu.”
“Adek pasti Erika Maya Sari, ya?” Tanya suster tersebut.
“Benar. Sus. Suster tahu dari mana? Ujarku sambil menghapus air mata di pipiku.
“Bu Aminah selalu datang ke sini setiap selasa dan sabtu sore membawakan makanan kesukaan Pak Yahya. Bu Aminah selalu menceritakan segala sesuatu tentang Dek Erika. Dan saya yang kebetulan piket selalu mendengar apa yang diceritakan Bu Aminah karena Bu Aminah selalu mengajak Pak Yahya ke taman.”
“Sekarang ibu sudah meninggal, Sus. Hari Jumat yang lalu.”
“Apa? Adek tidak bohong, kan? Jumat kemarin Bu Aminah datang menjenguk Pak Yahya. Namun entah mengapa Bu Aminah menangis seakan-akan tidak akan bertemu lagi dengan Pak Yahya. Innalillahi...”
“Tapi kenapa ibu tidak pernah menceritakan kepada Erika kalau ayah masih hidup? Tiga tahun yang lalu ibu bilang kalau ayah meninggal karena kecelakaan. Namun, Erika tidak diperkenankan menjenguk jasad ayah untuk yang terakhir kalinya setelah satu tahun berpisah.”
“Itu karena ibumu tidak ingin kau tahu keadaan rumah tangga mereka yang sebenarnya. Sewaktu Adek kelas 6 SD dan masih tinggal dengan nenek di Jawa, orang tua Dek Erika ternyata sudah berpisah. Karena itulah Erika dibawa ibu pulang ke Palembang. Jika Erika bertanya di mana ayah, Bu Aminah pasti menjawab kalau Pak Yahya sedang bertugas di Kedubes Indonesia untuk Malaysia. Padahal Pak Yahya sudah menikah lagi dengan seorang wanita penggoda. Pak Yahya terjebak dan jatuh miskin yang kemudian dicampakkan oleh ibu tiri Dek Erika setelah 2 tahun menikah.”
Suster itu menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.
“Pak Yahya stress dan menjadi gila. Seseorang menemukan Pak Yahya sedang duduk di bawah jembatan dan seperti mau bunuh diri kemudian dibawa ke sini. Kami sebenarnya agak kesulitan mencari keluarga Pak Yahya. Tapi Alhamdulillah berhasil dan Bu Aminah selalu datang menjenguk Pak Yahya. Masalah kenapa Bu Aminah merahasiakan keberadaan Pak Yahya kepada Dek Erika itu karena Bu Aminah tidak ingin Dek Erika malu kepada teman-teman Dek Erika.”
Tertunduk sedih aku mendengar cerita suster tersebut. Begitu rumit kehidupan keluargaku. Kini aku harus segera membawa ayahku keluar dari rumah sakit jiwa ini. Aku akan merawat ayah sebagaimana ibu merawat ayah selama tiga tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar