Rabu, 06 Juni 2012

Menanam Asa Meraih Mimpi

5 Juni 2012 pukul 11.30an.. kubuka web sps.upi.edu web yg mgkn setiap menit kubuka karena sebuah postingan yg menentukan arah hidupku kelak.. ya.. aku lulus di prodi pendas sps upi.. begitu bahagianya dan sujud syukurku kpd Allah SWT. Tak henti2ny mengucap syukur... Walau mmg bukan beasiswa.. tp aku yakin Allah tdk akan menelantarkanku sendirian di bandung.. rejekiNya pasti akan selalu mengalir utkku.. Bandung... dulu aku pernah menuliskan sebuah status di facebookku bahwa aku ingin tinggal di bandung.. Daannn... sekarang itu akan terwujud.. Ini adalah permintaanku yg kedua yg lgsg diwujudkan Allah.. Dulu aku jg pernah menuliskan sebuah status di facebook bahwa aku ingin kembali berkutat dg trigonometri, kalkulus, aljabar, dan pljrn matematika lainnya.. Daann sekaraaang aku pun sdh menjadi guru matematika di bimbel bergengsi di palembang yakni nurul fikri.. Betapa senangnya ketika utk tahap pertama tahapan tes tertulis lulus.. begitu jg tahap mikroteaching dan wawancara.. it's so amazing.. subhanallah.. Aku yg sdh 4 thn tdk berkutat dlm metematika smp dan sma bs diterima.. Allah memang tau yg terbaik bagi hambaNya.. Di sana aku bertemu dg org2 yg sdh dewasa pola pikirnya.. Aku pun melalui tahapan2 ujian menuju dewasa.. Namun, Allah selalu menguatkanku.. Sekarang aku sudah melalui tahapan ujian menuju masa depanku.. DOSEN Target yang akan kucapai ketika kuliah S2 ini adalah harus bs mencapai nilai ipk cumlaude lagi.. Dan harus bs lancar berbahasa inggris karena mimpiku utk thn 2017 ialah kuliah S3 di Melbourne University :D hahhaa.. mungkin terdgr impossible tapi pasti akan kubuktikan bahwa aku mampu.. HHmm tapi sepertinya aku.mau nikah dulu ya br ngambil S3 :D Selama di bandung nanti, aku akan mencari kosan di jln. gerlong.. Dekat dg upi dan tentunya masjid Daarut Tauhid.. Betapa bahagianya bahwa aku memang akhirnya bisa mendekatkan diri dg masjid.. Bs sholat subuh, maghrib, & isya di masjid DT.. Mendengarkan kajian subuh secara lgsg dr aa gym dan ustad2 lainnya.. Bahkan ini pun sudah pernah kutuliskan di status facebook bahwa aku ingin punya rumah dekat dg masjid.. Daann.. pastinya sekarang mimpi itu pun terwujud jugaa.. Aku merasakan nikmat yg sangat luaarrr biasaaa dr Allah.. Allah sayang sekali.. Rejekiku pun dikasihNya pas2an.. pas perlu ada :D jadi merasa org terkaya di dunia.. Sekrg aku hanya menyerahkan masalah biaya registrasi dan kosan kpd Allah.. Biarlah Allah yg mengatur bagaimana caraku membayarnya karena keyakinanku kpd Allah takkan pernah bergeser sedikitpun... 060612, 21:31
»»  READMORE...

Kamis, 31 Mei 2012

berpikir sejenak

Sungguh aku memang senang dg kesendirianku... Namun terkadang kesendirian inilah yg membunuhku.. Membunuh ketidakmampuanku dalam menyelesaikan masalah hidup.. Mulai dari kecemasan akan masa depan yg blm menemukan cahaya terang.. Maupun misteri pendamping hidupku kelak... Kesendirianku skrg mampu membuktikan kpd diriku sendiri bahwa aku bs mandiri dan bersama semangat yg aku punyai maka aku akan mampu mengarungi hidup.. Ikhtiar dan tawakal kpd Allah SWT sbg senjataku utk melawan derasnya kepungan masalah hidup... Seseorg yg dulu kuanggap akan menjadi pendamping hidupku kelak ternyata telah mengecewakanku... Yah bukan jodoh ya.. Memang ak tdk mengharapkan dia jd jodohku sih (hhaa ngeles ya..) karna aku memang mnginginkan seseorg yg cerdas dlm bidang keilmuan eksak seperti mtk, fisika, ataupun ekonomi akutansi... Dan juga cita-citaku utk menjadi dosen takkan pernah menyurutkan langkahku utk mengambil kuliah S2 dan selanjutnya S3... Sungguh aku haus akan ilmu.. Ilmu matematika tepatnya.. Sangat suka sekali dg belajar dan menjadi siswa :)
»»  READMORE...

Selasa, 13 Maret 2012

Ga tau mau dikasih judul apa :)

“Aduuhh.. maaf saya buru-buru…” Ujar Pak Alam ketika ia menabrak salah satu pegawainya. “Oh, Pak Alam.. Ya gak apa-apa, Pak.. Silakan..” Bergegas Pak Alam menuju ke luar kantornya. Wah, deras pula hujannya, gerutunya dalam hati. Mobil yang akan ia pakai berada agak di dekat pagar kantor dan itu berarti ia harus berjalan melewati rintik hujan yang semakin deras. Dilihatnya seorang ojek payung. “Ojek.. Ojek payung…” Panggilnya kepada seorang ojek payung cilik. Agak kesulitan rupanya ia menemukan ojek payung yang sedang kosong. Maklum, pada saat itu bukan hanya ia yang memerlukan jasa ojek payung. Setelah si ojek payung itu menghampirinya dan membawanya bergegas ke tempat mobil yang ia parker, Pak Alam pun memberikan uang selembar lima ribuan. “Terima kasih, Pak..” Mobil Pak Alam pun melaju kencang di bawah derasnya hujan menuju ke sebuah klinik bersalin yang berjarak 30 menit dari kantornya. Istrinya akan melahirkan anaknya yang kedua. Seorang putri yang telah 7 tahun ini ia harapkan akan lahir. Anak pertamanya seorang laki-laki yang kini duduk di kelas 3 SD. Sekilas ia teringat dengan si ojek payung tadi. Jika ia tidak bekerja keras di 9 tahun lalu, mungkin anaknya juga akan merasakan nasib yang sama dengan anak ojek payung tadi, pikirnya. Perlahan Pak Alam memacu kecepatan kendaraan dengan tinggi. Ia kembali menerima telepon dari mertunya jika istrinya sedang mengerang kesakitan sambil memanggil namanya. Di tengah perjalanan, ketika melewati tikungan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan seorang wanita yang sedang berlari menyebrang untuk mendapatkan tempat berteduh di sebuah halte tak terpakai. Tanpa bisa mengelak, Pak Alam pun menabrak wanita muda itu dan spontan saja orang-orang yang melihat kejadian tersebut berusaha menyelamatkan wanita itu. Pak Alam yang sedang dilanda kepanikan akan istrinya dan kini ditambah lagi dengan kepanikan atas insiden tabrakan langsung saja ia tancap gas meninggalkan lokasi kecelakaan tadi. Orang-orang yang sibuk mengurusi korban, tidak lagi sempat melihat nomor kendaraan mobil Pak Alam sehingga tidak bisa meminta pertanggungjawabannya. Wanita korban tabrak lari itu dilarikan ke puskesmas terdekat. __@@__ Ali berulang kali melihat ke luar jendela, dimana Kak Nurul?, tanyanya dalam hati. Sudah pukul 6 kurang 20 menit namun Nurul belum juga pulang. Biasanya ia sudah pulang pukul 5 sore. Atau karena hujan ya? Ah, entahlah…,gumam Ali. Ali pun segera mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh kakaknya. Sekilas ia melihat foto dirinya, Nurul, dan ibunya yang diambil sebelum ibunya pergi menjadi TKI di Yaman. Kini sudah 5 tahun ia dan kakaknya berpisah dengan ibunya. Alhamdulillah pemberitaan yang sering ia baca di koran mengenai TKI yang disiksa majikan tidak sampai menimpa ibunya. Sang ibu malahan sering menelpon mereka yang mereka terima melalui handphone tetangga. Betapa senangnya ia ketika mengetahui ibunya akan pulang 8 bulan lagi da tidak akan menjadi TKI lagi di sana. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Nurul belum pulang. Ali pun mulai cemas. Ia kemudian pergi ke rumah Bayu meminta bantuan untuk mencari kakaknya. Ketika ia melewati rumah Pak Toyo, ia pun dipanggil si pemilik rumah. “Ali… Bagaimana dengan luka kakakmu?” Tanya Pak Toyo. “Luka? Maaf, Pak. Siapa yang luka? Kakakku, Kak Nurul maksudnya?” Ujar Ali. “Lho, bukannya tadi kakakmu menjadi korban tabrak lari dan sekarang di Puskesmas Sejahtera?” “Apa? Kak Nurul jadi korban tabrak lari?” Tanpa menunggu penjelasan panjang dari Pak Toyo, Ali pun segera bergegas ke rumah Bayu dan meminta ditemani ke Puskesmas Sejahtera. Sepanjang perjalanan dengan menggunakan sepeda yang dikayuh oleh Bayu, Ali pun menangis. Tak terbayang olehnya jika sang kakak akan menderita luka yang parah. “Sudahlah Ali… Lebih baik kamu berdoa saja, itu akan membuatmu optimis.” Ujar Bayu. Bayu yang 3 tahun lebih tua dari Ali memang sudah mengalami “pendidikan” hidup sejak ia masih berumur 5 tahun. Seorang anak transmigran yang serba kekurangan yang akhirnya kembali mengadu nasib ke kota bersama ayahnya. Sesampainya di puskesmas, Ali mendapati kakaknya sedang tidur istirahat. Ali pun menangis seakan-akan ia telah kehilangan kakaknya. Nurul yang mendengar suara tangis Ali perlahan terbangun dan membuka matanya. Nurul mengusap-usap kepala Ali, adik satu-satunya yang ia miliki. Ia pun ikut meneteskan air mata. Ia rindu kepada ibunya. Di saat-saat pilu seperti ini, mereka menginginkan sosok seorang ibu yang akan menghapus kepedihan akan luka yang mereka hadapi. Nurul merasa belum memberikan sesuatu yang terbaik untuk Ali berjanji tidak akan meninggalkan Ali. Ketika ia tertabrak, ia sedang mengurus berkas-berkas untuk mengikuti kursus menjahit yang diadakan gratis untuk anak putus sekolah. Ia ingin mencari uang dengan cara baik yakni menjahit. Menjadi penjual air minum mineral di lampu merah perempatan jalan maupun di terminal amatlah rawan baginya. Sedangkan Ali masih bersekolah di kelas 3 SD sepulang sekolah harus menjual koran dan jika hujan tiba, ia menjadi ojek payung karena koran yang ia jajakan tidak akan laku tatkala hujan turun. “Kak…” “Apa sayang?” Dengan terbata-bata Ali menggenggam tangan kakaknya dan mengusapkannya ke pipinya, “Kakak jangan tinggalin Ali sendiri ya.. Kakak gak usah kerja dulu, biar Ali saja cari uang. Tabungan Ali juga masih ada kok.. Nanti Ali gak usah sekolah biar pagi-pagi bisa cari uang, jadi nanti dapet uangnya lebih banyak lagi…” Nurul tersenyum dengan kepolosan adiknya. “Ali harus tetep sekolah. Ali mau jadi orang bodoh?” Ali pun menggeleng. “Nah, jadi harus sekolah terus ya.. Biar rejeki kita Allah yang atur..” Rinai hujan di malam itu kian menambah pilunya hati dua kakak beradik itu. Bayu pun pamit ketika ayahnya menjemput pulang. Ali malam itu menginap di puskesmas untuk menjaga Nurul. __@@__ “Wah, cucuku sekarang lengkap ya.. Laki-laki dan kini perempuan…” Ujar ibu Ayik, mertua Pak Alam. Pak Alam pun tersenyum. Putri kecilnya lahir dengan selamat dan ia pun masih sempat menemani istrinya berjuang antara hidup dan mati. Hari sudah pukul 9 malam. Dilihatnya putrinya yang ia beri nama Putri Humairah sedang tertidur pulas di samping ibunya. Dan sang jagoan ciliknya, Abian Satria pun sudah tertidur di kursi setelah sibuk ikut menangis ketika melihat neneknya panik menanti kelahiran adiknya. Ia kira ibunya akan meninggalkannya. Melihat pulasnya tidur Abian, Pak Alam sontak teringat dengan kejadian sore tadi. Ia pelaku tabrak lari. Bagaimana dengan wanita tadi.? Apakah ia meninggal, terluka parah, atau… Ah, untuk apa kupikirkan.. Toh, nanti akan jadi boomerang bagiku sendiri jikalau nati ia menuntut saya ke polisi.. Bisa kacau kebahagiaan keluarga saya.. Pak Alam pun tidak menghiraukan kejadian yang ia alami sore tadi. Ia sudah cukup bahagia dengan kelahiran anaknya. __@@__ “Abian….” Abian pun menoleh dan mencari sumber suara yang memanggil namanya. Dengan terengah-engah Ali menghampiri Abian. “Hei Abian, kamu punya adik baru ya?” Tanya Ali. “Iya.. Cantik lho.. Kami nantinya akan menjadi kakak beradik yang solid pasti… “ Jawab Abian sambil tertawa yang kemudian disambut dengan cibiran Ali. “Huuhh… pasangan kakak adik yang solid itu saya dan Kak Nurul..” “Eh kakakmu dua hari yang lalu jadi korban tabrak lari ya? Gimana dengan penabraknya? Ditangkep gak?” “Haduh… Kamu sih dua hari gak masuk kelas jadinya kuper.. Pelakunya gak bisa ditangkep gara-gara gak kelihatan nomor polisinya. Hujannya deras banget..” “Hmm.. Semoga cepetan sembuh ya kakakmu. Oh iya, besok kamu ke rumahku ya.. Lihat adik baruku.. nanti aku gantian ke rumahmu menjenguk kakakmu. Sekalian aku antar kamu pulang sama ayah nanti pake mobil..” “Okelah.. Abian Satria si anak manja…Hahahaha…” Ledek Ali sambil berlari menuju kelas tatkala bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Abian pun mengejar Ali yang masih terbahak-bahak tertawa karena sukses mengerjai sahabat yang baru dikenalnya sejak 6 bulan yang lalu. __@@__ Esoknya, sesuai perjanjian kemarin bahwa Ali akan mengunjungi rumah Abian untuk melihat adik baru Abian. Ali yang masih terasa asing dengan suasana rumah Abian berusaha untuk beradaptasi. Ia pun menyalami satu persatu penghuni rumah itu. “Yah, ini nih temen baru Abian yang rumahnya dekat dengan kantor Ayah.” Ujar Abian memperkenalkan Ali dengan Ayahnya. “Oh ini Ali, si anak seribu langkah yang sering kamu ceritakan?” Ujar Pak Alam sambil tersenyum. “Anak seribu langkah?” Tanya Ali bingung. “Iya Ali, kamu itu adalah anak seribu langkah karena setiap masalah yang kamu alami pasti kamu akan hadapi walau itu sulit bagimu dan kakakmu. Ya, seperti yang sering kamu ceritakan selama ini… Dan ayahku pun tertarik dengan kepribadianmu. Seperti cerita novel yang menjadi nyata katanya..” “Aduh.. Pintarnya anak Ayah sekarang, sudah pandai berbicara.” Ujar Pak Alam sambil mengusap kepala Abian. Abian pun terkekeh-kekeh mendapat pujian dari ayahnya. Ali hanya terpaku melihat kasih sayang yang Abian dapatkan dari ayahnya. Diam-diam ia iri. Ia tidak tahu siapa sosok ayahnya. Ibu tidak pernah menceritakan siapa dan dimana keberadaan ayahnya yang sudah pergi sejak ia berada 3 bulan dalam kandungan meninggalkan ibu dan kakaknya. “Nah nak Ali, nanti kita ke rumahmu ya. Om mau jenguk kakakmu. Kalau boleh tahu siapa ya namanya?” “Nurul, Om. Nurul Ariani AP” Tiba-tiba Pak Alam berkeringat dingin. Ia menjadi gugup, pucat, dan seperti ingin pingsan. “Lho, kenapa, Om? Om sakit ya?” “Ah tidak apa-apa. Hanya mendadak kepala Om agak pusing.” Abian yang sudah datang membawa kunci mobil menghentikan percakapan mereka. Pikiran Pak Alam pun seperti mengawang ke kejadian 9 tahun silam. Sebuah dosa besar yang ia lakukan. Dengan hati-hati ia memacu mobilnya menuju ke rumah Ali. __@@__ Sesampainya di rumah Ali yang sangat sederhana, Pak Alam memperhatikan dengan seksama setiap sudut rumah Ali. Ia mencari sebuah benda yang akan menguatkan argumentasi dirinya yang telah ia utarakan dalam hati selama perjalanan menuju rumah Ali. “ Assalamu’alaikum. Kak Vina, ini ada Abian dan ayahnya datang menjenguk Kakak..” Kata Ali ketika mereka telah sampai di rumah. “Wa’alaikumsalam. Iya Ali ajak mereka masuk ya.” “Ayo Om dan Ali mari masuk. Maaf tempatnya mungkin agak tidak nyaman.” Ajak Ali kepada Pak Alam dan Abian. “Dimana kakakmu Ali?” Tiba-tiba saja Vina keluar dari kamar dan menghampiri mereka. “Lho, kakak kok keluar kamar?” Wajah Vina yang pucat dan gugup memberanikan diri untuk keluar kamar tatkala mendengar suara Pak Alam. Dengan bantuan sebuah kayu yang menopang badannya, ia keluar menuju sumber suara yang sedang berbicara. Ketika ia melihat Pak Alam, ia tidak dapat menahan air matanya. “A..a..yah..” Ali dan Abian pun kaget. Terlebih lagi Ali, ia sangat heran kenapa kakaknya memanggil Pak Alam dengan panggilan ayah. “Kak Vina, ini Pak Alam. Ayahnya Abian..” Tanpa menghiraukan penjelasan Ali, Vina menyuruh Ali mengambil sebuah map yang ada di dalam lemari Vina. “Ali, lekas kau ambil map merah di dalam lemari kakak, cari di bagian paling atas.” Ali pun bergegas ke kamar Vina dan keluar dengan membawa sebuah map merah. “Ali.. Kau ingin tahu kan siapa ayahmu. Bukalah map itu.” Ali dan Abian segera melihat isi map merah, dan di sana terdapat akte kelahiran Ali dan Vina. Ali yang sudah pandai membaca melihat nama ayahnya ialah Alam Prabowo. “Alam Prabowo? Bukankah itu nama ayah?” Gumam Abian. “Coba lihat foto-foto yang ada di dalam map tersebut.” Suruh Vina kepada Ali. Ali pun melihat foto-foto yang di dalamnya terdapat Ibunya, Kak Vina, dan… “Om Alam? Ini foto Om Alam? Ibu juga ada sama kak Vina. Jadi Om Alam ini…” “Om Alam inilah ayah kita, Ali. Dia sudah meninggalkan kita sejak kau dan kakak kembaranmu di kandungan ibu. Dia yakin akan mendapatkan pekerjaan layak di kota dan mengeluarkan kita dari kemiskinan. Tapi nyatanya dia tidak pernah pulang. Oh salah… Dia pulang ketika ibu melahirkanmu dan kakak kembaranmu. Ia mengambil kakak kembaranmu karena istri mudanya belum bisa memberikan anak kepadanya. Apalagi wajah kalian tidak seperti layaknya anak kembar pada umumnya. Wajah kalian berbeda walaupun kembar. Dan kakak yakin, Abian inilah kakak kembaranmu…” Papar Vina. Pak Alam pun hanya bisa tertunduk. Sementara Ali dan Abian saling berpandangan. Ali merasa senang karena kini ia telah mengetahui siapa ayahnya. Dan Ali pun merasa kebahagiaannya bertambah dua kali lipat karena ia mempunyai saudara kembar, yakni Abian. Begitu pula Abian yang merasa sejak pertama bertemu sudah memiliki ikatan batin dengan Ali. Seperti sudah sangat lama mengenal Ali. “Maafkan Ayah, Nak? Ujar Pak Alam. “Ayah sudah menelantarkan kalian…” “Kami sangat kecewa dengan Ayah. Setiap malam Vina mendengar suara isak tangis ibu yang mendoakan keselamatan Ayah dan semoga Ayah sadar dan kembali kepada kami.. Ibu berjuang sendiri menopang kehidupan kami. Penderitaan Ibu ketika mengandung Ali dan Abian, tapi dengan seenaknya saja Ayah datang mengambil Abian dan membawanya ke kota. Setelah Ali bermumur 2 tahun, kami pindah ke kota untuk mencari Ayah. Tapi sayangnya kota ini terlalu luas untuk mencari seorang ayang yang telah menelantarkan anak istrinya.” Pak Alam pun bersimpuh di hadapan Vina sambil menangis. “Maafkan Ayah, Vina. Ayah sangat menyesal… Selama bertahun-tahun Ayah dihantui rasa berdosa kepada kalian..” Lantas kenapa Ayah tidak mencari kami?” Potong Vina. “Sudah 6 tahun kami di sini, tapi sama sekali tidak terdengar kabar Ayah ,mencari kami.. Jadi, untuk apa Ayah menyesali dosa jika ternyata ayah tidak mau menebusnya dengan mencari kami dan memberikan nafkah kepada kami. Sudahlah, kami tidak perlu omong kosong lagi. Sebaiknya Ayah pergi saja ke rumah Ayah. Toh, putri baru Ayah pasti sedang menunggu kasih sayang Ayah di rumahnya..” Ali dan Abian hanya terdiam. Mereka mengerti dengan kemarahan Vina. Sudah bertahun-tahun Ali dan keluarganya terlunta-lunta mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sedangkan orang yang bertanggung jawab menafkahi mereka malah pergi dengan orang lain. “Sekarang silakan Ayah pergi. Kami tidak ingin melihat air mata palsu Ayah..” Ujar Vina sambil membukakan pintu luar dengan lebar. “Tapi Kak, Om Alam ini ayah kita. Ali senang sudah tahu siapa ayah Ali dan ternyata Abian ini kakaknya Ali juga. Jadi sudah lengkap keluarga kita, ada ayah, ibu, kak Vina, dan kak Abian.” Vina terdiam kemudian mendekati Ali yang sudah terisak-isak menangis. Vina membelai Ali dan juga memberikan isyarat kepada Abian untuk mendekati mereka. Vina pun memeluk kedua adiknya. Abian pun ikut larut dalam kesedihan kakaknya. Abian pun berkata kepada Vina, “Kak Vina, kakak jangan marah ya kepada Ayah. Ayah sayang dengan kalian. Walau Abian masih kecil, tapi Abian tahu jika Abian itu punya saudara kembar. Abian pernah denger pembicaran Ayah dan Ibu. Ayah sudah mencari kalian, Kak. Percayalah dengan Abian. Abian tidak bohong.” Vina pun menatap Pak Alam yang sudah sembab matanya. Perlahan ia mendekati Pak Alam dan memeluk ayahnya. “Maafkan Vina, Yah.” “Anakku Vina, Ayah sangat minta maaf kepada ibumu, Ali, dan juga Vina. Ayah berjanji tidak akan menelantarkan kalian lagi. Sekarang kalian ke rumah Ayah ya?” Vina pun mengangguk. Mereka pun pergi menuju rumah Pak Alam. __@@__ Sambutan hangat dari istri Pak Alam dan juga ibu mertuanya kepada Ali dan Vina pun semakin menguatkan Vina bahwa ayahnya memang sudah berubah. Istrinya sangat baik dan ia menceritakan segala hal yang telah ia dan suaminya lakukan. Ia mengungkapkan maafnya karena telah merebut Pak Alam dari ibunya karena ia pun tidak tahu jika keadaan hidup Pak alam sangat rumit. Ia hanya tahu Pak Alam itu duda beranak satu dan istrinya meninggal ketika melahirkan. Oleh karena itu Pak Alam mengambil Abian sebagai bukti sebelum ia menikahi istri mudanya ini. Sementara Ali dan Abian semakin akrab dan mereka sepertinya menyukai Putri. Vina merasa senang dengan keadaan hidupnya sekarang. Kini, kaki Vina sudah bisa berjalan normal walau masih dibantu dengan tongkat. Pak Alam sudah menceritakan siapa yang sudah membuat kaki Vina cedera. Ia sudah membawa Vina ke dokter untuk perawatan kaki Vina. Namun, sampai detik ini ia tidak mau ambil pusing dengan urusan siapa yang menabraknya. Toh, dengan kejadian ini ia bisa menemukan ayah dan adiknya. Sekarang ia sedang menunggu kedatangan ibunya dari Yaman. Ibunya sudah mengetahui berita gembira ini dan kepulangannya dipercepat 1 bulan. Dan kini tinggal 2 bulan lagi ibunya akan pulang ke rumah. Akhirnya mereka bisa berkumpul dengan keluarga yang utuh. 130312/22.52
»»  READMORE...

Elegiku Sendiri...

ELEGI Sebenarnya saya ingin membuat puisi. Tapi karena keterbatasan kata-kata konotasi saya dalam berpuisi maka saya tuangkan dalam bentuk narasi sajalah… Namanya saja penulis, jadi ya saya suka bercerita lewat karangan saja… Elegi… suatu kata yang pertama kali saya kenal ketika menonton film Dealova. Walau jalan ceritanya memang biasa saja, tapi mungkin karena soundtrack song yang disajikan sangatlah menarik perhatian masyarakat. Elegi… Ingin kutuangkan hasrat “denyut” kata hatiku dalam suatu narasi yang pendek ini berupa elegi… Suatu perasaan yang memendam lama keinginan untuk menemukan suatu elemen kutub positif agar dapat menghasilkan energy di dalam hidupku, dan menjadi suatu pasangan dalam kedamaian hidup menjalani apa-apa yang diwajibkan Allah SWT dan Rasulullah. Elegi dan kehampaan yang kualami ketika sesuatu masalah yang hanya akan kuceritakan kepada Allah, bahkan orang tua saya pun sering tidak memberikan solusi tatkala saya menceritakan masalahku sehingga betapa malasnya untuk sharing kepada mereka. Saya butuh sebuah partner hidup dan saya menginginkan kata elegi itu menjauh dari pikiran saya. Jika mengingat elegi, saya teringat kepada gunung. Saya ingin sekali mendaki gunung dan berada di puncaknya dan berteriak dengan segala kegalauanku dimana akan kuungkapkan segala mimpi dan cita-cita di sana. Akan kuteriakkan sekencang-kencangnya kepada orang-orang yang berada di kaki gunung agar mereka mendengarkan juga kegalauanku akan mimpi-mimpi yang belum sepenuhnya dijawab oleh Allah… Namun terlalu picisan jika mengumbar secara detail perasaan karena sebenarnya saya merasa takut untuk mengungkapkannya di sini, di dunia maya. Namun sungguh tak bisa kupungkiri elegi yang semakin lama semakin memenuhi isi kepala dan hati... Pernahkah terpikir olehmu ketika sebuah bayangan yang hadir tatkala terang dan pergi tatkala hari sudah mulai gelap. Ia hanya hadir ketika masa senang dan seketika pergi seperti angin lalu yang seakan-akan kau tidaklah penting baginya. Ini bukan karena rasa pamrih atau apapun tentang keikhlasan… hanya saja perasaan kehilangan memang ada ketika si bayangan telah hilang dan tenggelam bersama kegelapan. Namun saya tidak akan pernah meratapi bayangan itu dan kini mencoba bangkit dari bumi ke langit (pinjem judul lagu orang). Elegi.. Hilanglah bersama angin utara Bersama khayalan yang terjatuh dari mimpi Tinggalkanku meratapi bayangan maya Menjauhkanmu dari tatapan hati Elegi… Tidakkah kau tahu akan fatamorgana hati Mengendap-endap masuk Berusaha mencari celah Kemudian merayap meninggalkan mimpi Menggalauku kini Meski terasa sulit melepaskan makna elegi yang begitu lancangnya datang menghampiri hati kemudian merasuki pikiran dan menjadi racun di nadi… Sesuram itukan elegi…? Jawaban selalu kunantikan dari Yang Di Atas... Akankah elegi, kerinduan, dan kesepian, lonelyness akan berakhir.. Hhhmm… Pastinya banyak yang ngira kalo saya ingin cepat-cepat m*n*k*h kan..?? Hhee.. Bukan..!!!! Saya sebenarnya ingin mengarungi hidup terlebih dahulu… Mencoba nyali dan mentalku dalam “mengubek-ubek” dunia. Menemukan partner hidupku di antara mereka yang juga antusias dengan mimpi-mimpiku untuk mengajar di pelosok negeri di Indonesia… Sungguh menyukai anak-anak penurut yang masih bermimpi melanjutkan pendidikan dan keluar dari kemiskinan dan kebodohan… Saya hanya ingin mendapatkan partner saya yang mempunyai visi yang sama dengan saya.. Oleh karena itu saya akan stop kepada sebuah rasa picisan kepada orang-orang yang pengecut dan memulai mengarungi hidup di antara samudra dunia. Meski nantinya akan mendapatkan pertentangan dari banyak pihak terutama dari orang tua. Namun, kuyakini Allah akan meridhoi mimpiku ini.. Membangun tanah pelososk Indonesia untuk bangkit dan melawan kemiskinan dan kebodohan… Kepada elegi dan kedukaan yang belum berujung kemana kan berakhir menemukan tepiannya… Kan kutemukan di antara puing-puing kepingan mozaik kehidupanku yang seakan-akan kini seperti membiarkanku dalam kesendirian mengayunkan langkahku meraih mimpi… Elegi… Biarlah hidup dan selamanya kan selalu terpatri dalam hati… Saya seperti hendak menangkap angin, selalu terlepas tanpa pernah bisa kau genggam… Kini biarlah kuturuti alur hidupku berdasarkan rancangan khayalan hidupku sesuai dengan tuntunan ridho Allah… 130312
»»  READMORE...

Sabtu, 25 Februari 2012

Bunga Terakhir

Tetaplah bertahan kak, ujar Bunga dalam hati. Ini adalah hari ketiga ia menunggui kakaknya di rumah sakit. Dan sejak tiga hari itu pula, ia belum mendengar suara kakaknya lantaran koma. Sungguh Bunga sangat teriris hati melihat kesakitan yang diderita kakaknya. Kakaknya Rizka mengalami tindak kekerasan yang dilakukan sekelompok preman yang ingin meminta uang hasil penjualan kue kami secara paksa. Karena terus mempertahankan hasil dagangan kami, maka Rizka pun dipukul, tangannya terluka dan hampir mengenai urat nadinya. Rizka langsung dilarikan ke rumah sakit dan sudah tiga hari mengalami koma. “Assalamu’alaikum, Bunga..” Sapa seseorang yang sudah berada di samping Bunga. “Wa’alaikumsalam, Cek Ummi.” Jawab Bunga seraya memeluk Cek Ummi. “Tak ada perubahan, Cek,” lanjut Bunga. “Kenapa ujian selalu datang kepada kami ya Cek.? Tanya Bunga sambil tertunduk sedih. Setelah ditinggal untuk selama-lamanya oleh nenek yang sudah mengasuh mereka selama 18 tahun karena kebakaran besar di kawasan Pasar Gede di mana mayoritas bangunan rumah terbuat dari kayu. Nenek mereka tertimpa reruntuhan atap dan akhirnya meninggal. Setelah orang tua mereka berpisah sewaktu Bunga berumur 2 tahun dan Rizka 5 tahun, mereka diasuh oleh sang nenek karena kedua orang tua mereka memilih menikah lagi dengan orang lain dan tidak mau merawat mereka berdua. Cek Ummi menggenggam tangan Bunga seraya berkata “Allah itu selalu bersama kalian dan saying kalian. Buktinya Ia mempercayai kalian untuk bisa melewati ujian hidup ini. Ikutilah scenario dari Sang Sutradara kehidupan maka kelak Surgalah balasannya.” “Tapi Cek, bagaimana bisa Bunga melewati ujian ini tanpa Kak Rizka? Bunga rela makan sekali sehari, panas-panasan mencari uang, bahkan basah kuyup lantaran harus mengantarkan kue ke Pasar Gede asalkan ada Kak Rizka yang mensupport. Namun sekarang, jangankan untuk berbicara, menggerakkan jarinya pun dia belum bisa. Sampai kapan Bunga bisa bertahan, Cek” Ujar Bunga tersedan. Cek Ummi adalah tetangga mereka yang mengerti dengan perjuangan mereka bertahan hidup. Menjual kue ke Pasar Gede yang jarak tempuhnya satu jam dari rumah dengan berjalan kaki. --@@-- “Kak, ini foto ayah dan ibu ya?” Tanya Bunga. Sambil tersenyum Rizka menjawab celotehan adiknya, “Iya Bunga. Nah itu Bunga yang sedang digendong ayah… Lucu ya..” “Iya kak.. Oh ya Kak, nanti Bunga mau mencari ayah dan ibu agar kita gak minta duit sama nenek, kan kasihan nenek bikin kue sampe malem terus” Rizka pun terdiam. Saat itu ia berumur 10 tahun. --@@-- “Siapa ya?” Tanya seseorang melalui suara penghubung yang ada di pagar. “A..a..apa benar ini rumah Pak Andrian Wiryanto?” Ujar Bunga. “Ya Benar. Anda siapa dan ada keperluan apa?” “Sa..saya Bunga Wiryanto, apakah Pak Andrian ada di rumah?” “Maaf, Mbak. Mereka sudah pindah ke Bandung 5 hari yang lalu” “Ohh.. Terima kasih.” “Ya, Sama-sama” Dengan rasa kecewa Bunga kembali ke rumah. Dan Rizka pun tahu apa yang telah dialami adiknya. Ia pun langsung memeluk Bunga. Saat itu ia berumur 14 tahun. --@@-- “Ini dek ada kiriman paket untuk Bunga Wiryanto. Silakan tanda tangan di sini sebagai tanda terima” Ujar seorang tukang pos. Dengan rasa kaget Bunga yang pada saat itu sedang menjemur pakaian menerima sebuah kiriman paket yang tertuju padanya. Setelah menandatangani tanda terima paket yang tidak ada nama pengirimnya, Bunga langsung menmanggil kakak dan neneknya. Mereka bertiga membuka paket tersebut dan isinya adalah sebuah jilbab dan mukena. Di dalamnya pun terdapat ucapan Selamat Ulang Tahun dari Kak Rizka dan Nenek. Betapa terkejutnya Bunga karena kakak dan neneknyalah yang mengiriminya paket. “Nenek sangat ingin kamu menjadi anak yang sholehah. Nanti kalian baik-baik ya kalau Nenek sudah tidak bisa menjaga kalian. Nenek hanya bisa mewarisi kalian rumah ini beserta isinya.” “Nenek jangan bilang begitu. Selamanya kami akan menjaga Nenek. Nenek adalah orang tua tunggal kami,” Ujar Rizka. Dan seketika itu pula Mereka bertiga larut dalam kesedihan. Dua hari kemudian ketika pukul 11 malam. Dengan lahapnya api membakar pemukiman rumah dan sumber titik kebakaran hanya berada kelang empat rumah dari rumah yang didiami oleh Rizka, Bunga, dan nenek mereka. Rizka dan Bunga yang masih belum tidur karena masih sibuk membuat kue untuk dagangan besok langsung membangunkan nenek yang sedang tertidur di kamar. Namun kejadiannya begitu cepat karena api langsung merembet ke dapur dan membuat kompor meledak. “Bungaaa, cepatlah kamu keluar. Kakak akan selamatkan nenek” Teriak Rizka sambil berlari ke kamar. “Ayo Nek, lekas kita keluar, ada kebakaran.” Sang Nenek yang terkejut langsung ditarik Rizka keluar dari kamar. Rizka berhasil menuju halaman rumah. Namun ternyata sang nenek kembali ke dalam rumah, seperti ada yang hendak diselamatkannya. “Neneeeekk…” Teriak Rizka tatkala ia mengetahui nenek kembali ke dalam rumah yang sudah hangus setengah. Rizka pun menerobos reruntuhan rumah dan didapatinya sang nenek sudah tergeletak ditimpa reruntuhan atap sambil memegang sebuah map. Rizka pun menggendong nenek ke luar dan segera membangunkan sang nenek, berharap nenek masih hidup. Namun Allah berkehendak lain. Satu-satunya keluarga mereka yang masih ada kini telah meninggalkan meeka untuk selama-lamanya. Saat itu Rizka berumur 17 tahun. --@@-- Bunga masih tertegun melihat kondisi kakaknya yang sama sekali belum ada perkembangan. Pikirannya melayang tatkala membaca kembali buku harian kakaknya. 12 Maret Adikku Bunga hari ini sudah membantuku menyusun kue-kue dan aku berjanji besok akan kuhadiahi ia sebuah permen coklat yang ada di supermarket itu. Bunga pun ingat, ketika dulu ia pernah diberi permen coklat oleh seorang anak kecil dan ketika ia ditanya dari siapa, anak kecil itu malah berlari dan sambil tertawa meninggalkannya. 10 Mei Pagi tadi Bunga dengan semangatnya mencari alamat ayah, dan aku tahu pasti hasilnya nihil karena memang ayah sudah lama pindah. Tapi aku tetap tidak akan mematahkan semangatnya. Sebuah es jeruk akan menghilangkan dahaganya. Dan benar saja, Bunga ingat ketika ia pulang ke rumah, di atas meja sudah tersaji es jeruk dan seketika itu kakaknya langsung memeluknya karena tahu bahwa Bunga tidak akan menemukan ayah mereka. Dibukanya beberapa lembar buku harian itu dan ia mencari sebuah tanggal di dalamnya. 27 November Lihatlah Bunga, ini adalah alamat ibu kita. Beliau sekarang tinggal tidak jauh dari rumah kita. Tanpa sepengetahuanmu, kakak kemarin sudah ke sana. Dan berita buruk telah menimpa kita. Ibu sudah meninggal dunia. Dan kini suami ibu sudah menikah dengan orang lain. Pedih memang. Dan maaf kakak tidak bisa memberitahumu akan hal ini karena akan menambah lukamu. Hanyalah sebuah jilbab yang bisa kakak persembahkan. Padahal kakak ingin memberikanmu kado special yakni ibu. Namun kenyataan memang bisa berbeda dengan harapan. Sekali lagi maafkan kakak, Bunga. Ibu sudah meninggal? Seketika itu Bunga tidak dapat menahan air matanya. Digenggamnya buku harian kakaknya dan ia pun berlari. Tanpa ia sadari, jemari kakaknya sudah mulai bergerak secara perlahan. Dan akhirnya mata Rizka pun dengan lemahnya terbuka dan sayangnya tidak ada siapa pun di sana. Bunga bergegas mencari alamat yang ada di dalam buku harian kakaknya. Ketika angkot yang ditumpanginya berhenti di seberang rumah sederhana, ia pun turun. Tanpa berhati-hati ia menerobos jalanan tanpa menghiraukan kendaraan yang begitu padat. Pikirannya kosong, matanya hanya tertuju pada bayangan. Bunga pun tersenyum, ia seakan-akan telah bertemu ibunya. Ibunya berusaha meraih tangannya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat indah. Di sana Bunga juga bertemu dengan nenek. Mereka bertiga nampak sangat bahagia karena telah berkumpul kembali. “Bagaimana ini, Dok? Tidak ada satupun keluarga yang bisa dihubungi.” Ujar seorang perawat. “Ya sudah, cek dulu golongan darahnya, nanti kita minta bantuan PMI” “Oh ya Dok, pasien korban kekerasan kemarin itu sudah siuman, tapi sayang adiknya belum bisa diketahui keberadaannya Hanya ada seorang tetanggamya saja yang menungguinya sekarang.” “Nanti kita urus dia sus, sekarang antarkan saya ke ruang korban kecelakaan tadi.” “Baiklah.” Sambil bergegas menuju ke ruangan UGD, dokter itu pun bertanya, “ Siapa nama korban dan golongan darahnya apa? Nanti akan segera saya hubungi PMI karena sepertinya sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu keluarganya datang” “Namanya Bunga 20 tahun golongan darahnya A”. Bunga? --@@-- Dari atas kursi roda, Rizka menaburkan bunga ke pusara terakhir Bunga. Fisiknya masih lemah. Sambil menggenggam buku hariannya, Rizka berusaha tegar. Kini ia sendiri tanpa Bunga. Namun ia bertekad akan menemukan ayah mereka seperti apa yang telah dilakukan Bunga. Hanyalah berbekal beberapa nama dan alamat yang ada di dalam map yang dahulunya pernah diselamatkan nenek pada peristiwa kebakaran 6 tahun lalu yang akan menjadi petunjuk keberadaan keluarga ayah dan ibunya saat ini.
»»  READMORE...

Minggu, 03 Juli 2011

KENANGAN

“Kita berbincang tentang memori di masa itu…”

Kata masa yang merujuk ke makna waktu. Ya, waktu 3 tahun 8 bulan kita telah bersama-sama sejak tanggal 22 Oktober 2007 sampai wisuda 23 Juni 2011 (walau memang masih ada di antara kita yang belum merasakan “pemindahan tali toga” kemarin).
Memang jika dikalkulasikan dengan hari, 3 tahun 8 bulan itu sangaaaaaatttt lama. Namun bagi kita yang setiap hari bertemu, bercanda tertawa bersama, dan terkadang terselip rasa kesal, marah bahkan tidak suka di antara kita merasakan waktu 3 tahun 8 bulan itu amatlah singkat. Semua perasaan tersebut anggaplah merupakan salah satu proses pendewasaan diri kita. Bagaimana cara kita menyikapi sebuah permasalahan yang juga melibatkan seorang teman, bagaimana cara kita berbagi kebahagiaan dengan teman, dan bagaimana kita menjadi bijak dalam memberikan solusi dari teman yang sedang membutuhkan pertolongan. Semua itu kita dapatkan dari kehidupan asrama. Bersama-sama dalam membuat tugas, bertanya dan saling membantu sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Ibarat salah satu bagian tubuh yang sedang sakit, maka seluruh anggota tubuh pun ikut merasakan sakit. Dan juga kita selalu mengingatkan satu sama lain, baik dengan perkataan langsung maupun dengan sindiran-sindiran. Rasa malas ataupun bosan dalam kuliah terkadang menghampiri, maklumlah teman, kita ini memang dituntut untuk lulus dengan tepat waktu.
Lihatlah kita sejak Januari kita sudah tidak lagi merasakan duduk di bangku kuliah. Pena sekarang hanya berfungsi untuk menggoreskan tanda tangan ataupun formulir. Sisanya tugas akhir kita diketik dan diketik… Semuanya dimulai dari menyusun proposal, kemudian seminar, dan diakhiri dengan sidang. Semua tugas itu kita lakoni sendiri., berpikir dan berjalan sendiri. Sibuk pontang panting mencari dosen dan buku refrensi. Ada yang bermasalah dengan dosen yang ingin skripsi “anaknya” perfect (se-perfect dirinya yang mungkin pintar di bidang itu), ada yang susah mencari bahan refrensi, ada yang bisa bimbingan 2 minggu sekali dengan draft skripsi yang dititipkan di rumah dosen, ada yang dosennya pergi kuliah keluar negeri, ada yang dosennya susah untuk ditemui (sms tak dibalas, telpon tak diangkat, eleh-eleh kemana ya si-dosen tercinta), ada yang ketemu dosen yang suka marah-marah, pokoknya macam-macam. Semua keluh kesah kita ceritakan di asrama. Saling mendengarkan dan memberikan pendapat dalam pembuatan tugas akhir sudah tidak asing lagi. Bahkan terkadang ada tangis kesal dengan tugas ini. Oh skripsi, engkau dicintai tapi juga dimaki-maki,.. Bahkan skripsi seringkali dijadikan kambing hitam dari hilangnya bobot tubuh seseorang,.. Hhhaaa,… (Ayo, tunjuk tangan siapa yang merasakannya..!!!).
_Kenanglah hari ini sebagai hari yang ‘kan kita rindukan di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan. Bersenang-senanglah karna hari ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua_
Namun jika kita flashback ke masa lalu, masa perkuliahan yang pada semester awal dengan banyaknya “jam terbang” kita ke kampus. Setiap hari ada kuliah, dari pagi sampai sore. Bolak-balik asrama-kampus karena jam 12 harus sholat dan makan di asrama kemudian balik lagi ke kampus di bawah terik matahari dengan berjalan kaki karena belum ada angkutan umum yang masuk ke asrama (hhhaaa, alangke cak pelosoknyo asrama kito niii). Lalu mendengarkan ceramah dosen dengan panas dan ngantuknya di ruang yang walaupun berAC sama saja seperti tidak berAC saking banyaknya “penduduk” kelas. Dan terkadang lebih melelahkan lagi jika dosen dengan seenaknya mengubah jadwal perkuliahan. Saat kita sedang berada di suatu tempat, saat sedang beristirahat tiba-tiba ada saja yang teriak “Kelas A/B, kuliah …… sekarang di kampus. Ibuk/Bapaknyo lah dateng”. Sungguh tragis kuliah di PGSD ini,.. Namun itu sudah menjadi konsekuensi kita karena memilih PGSD sebagai tempat kita menuju masa depan sebagai GURU SD,… Dulu sempat ada yang (mungkin) shock berada di asrama -yang seperti kita ketahui dan sudah menjadi rahasia umum bagi kita- kalau ada “sedikit” ketidaknyamanan dalam menempati asrama dan ditambah lagi keadaan yang sangat membosankan sehingga ingin sekali pulang ke rumah dan merasakan sedikit udara kebebasan. Tapi setelah 3 tahun 8 bulan, malahan kebosanan itulah yang bosan mengikuti kita, dan kelelahan itu kini sudah lelah membayangi kita. Tinggal kita mengintrospeksi diri, apa yang selama ini kita dapatkan selama berada di asrama. Apakah kita sudah cukup dewasa dalam menghadapi persoalan hidup? Ataukah hanya umur saja yang bertambah tua tapi masih dengan sifat kenakak-kanakan?
Ada lagi cerita masa sibuk kita sewaktu semester 3, pagi sampai sore berada di kapus dikarenakan ekskul pramuka dan kerohanian. Ditambah lagi di semester berikutnya dengan ekskul seni tari dan seni musik yang mungkin sebagian besar dari kita mengikutinya dengan setengah hati, dan bahkan ada yang tidak ikut sama sekali. Inget dulu sering menenteng laptop ke mana-mana mencari sinyal hotspot untuk sekedar ngeliat friendster, facebook, dan tugas kuliah tentunya,… Meluangkan waktu untuk kerja kelompok (walau terkadang ujung-ujungnya hanya 1 atau 2 orang yang mengerjakan tugas itu dalam kelompok), jalan-jalan sore sekitar asrama, kumpul-kumpul membahas permasalahan per-kelompok asal kabupaten masing-masing. Kesemua itu tidak akan bisa kita rasakan lagi. Namun semoga saja Allah masih memberikan waktu unutk kita bertemu dan bersama-sama lagi,
Kita juga pernah merasakan hidup di tempat asing pada saat KKN. Belajar bagaimana cara bersosialisasi dengan warga di sana dan berusaha membangun kepercayaan masyarakat bahwa mahasiswa itu bukan hanya sekedar belajar di kampus tapi juga mampu memberikan kontribusinya dalam masyarakat (hhooohhoo, sok wise nih..). Kemudian juga teringat akan tugas PPL yang membuat kepala rasanya cenat cenut gara-gara begadang bikin media dan RPP sampai tengah malam. Kemudian di siang harinya bertemu dengan murid-murid yang ada-ada saja tingkahnya yang sering ingin membuat emosi ini meledak. Singganya, semakin tinggi tingkat semester kuliah, semakin tinggi juga otak ini berpikir. Dulu pernah dapet omongan kalau semester yang paling menjemukan dan menjadi cobaan tiap mahasiswa itu adalah semester 4 dan 5, di mana seorang mahasiswa akan merasakan kebosanan yang sangat bosan dalam mengikuti perkuliahan. Dan itu memang terbukti. Sehingga butuh pegangan yang kuat untuk tetap bertahan dalam menghadapi situasi tersebut agar tidak roboh di tengah jalan. Ingat tidak ketika semester 3 dan 4 kita selalu menyimak teman simulasi dan simulasi setiap hari dalam setiap mata kuliah. Bosan juga ya lama-lama mengikuti siklus hidup yang sama setiap hari,.. Percayalah, lelah ini hanyalah sementara,..
Dan jika ngomongin PGSD Berasrama, rasanya gak lengkap kalau gak ngomongin sebuah kata benda yang terdiri dari dua frase yang membuat kita tersenyum di kala merasakan kelelahan dalam mengerjakan tugas kuliah, yakni UANG SAKU,…Hhhhoohhoo, yang satu ini tidak akan pernah terlewatkan, selalu ditanya, diharap, ditunggu kehadirannya, dan terkadang membuat kepala cekat cekot dan hati cenat cenut (lho, apa hubungannya ya…?). Tak heran Pak Khaidir dan juga Pak Jhon setiap bulannya selalu mendapatkan pertanyaan “Pak, kapan dapet duet saku?”. Uang saku, diharap tapi tak kunjung datang, tak ditunggu eh tiba-tiba dapet,.. Emang rejeki gak lari ke mana ya teman,.. Kalau ada barang yang akan dibeli pasti ngomong “kalo dapet duet saku, aku nak beli…..”. Ya, itu pun kalau dapet, kalau tidak, gak jadi dibeli tuh barang,.. Inget waktu kita dimarahin Bu Hawa gara-gara ada yang mau minta dibalikin uang makan karena tidak berada di asrama sejak pulang dari KKN. Ternyata uang bisa membuat orang putar otak 360o untuk mendapatkannya,.. Tapi sayang perjuangannya tidak berhasil, malahan kita dapet “kuliah 70 menit” dari Bu Hawa,..
Temanku yang kucintai dan juga mencintai saia (tentunya ya, hhaa), di sela-sela kelelahan, kegembiraan kita sehari-hari selama berada di asrama kita pasti memiliki mimpi-mimpi yang tertanam dan terus dipupuk dalam otak dan hati kita. Kita pastinya tidak akan hanya berhenti menjadi guru SD saja. Mungkin nanti diantara kita ada yang menjadi kepala diknas (aamiin), kepala sekolah (aaamiin), dosen (aaamiiin) ataupun guru besar (aaaamiiiiiiiiin), pengusaha ataupun wiraswastawan yang membuka lapangan kerja bagi orang-orang (aaamiiiin), atau bahkan mungkin ada yag jadi bupati (aaamiiin,,) hhooohhooo, pokoknya jangan sekali-kali lupa dengan teman senasib seperjuangan di PGSD ini ya kalau sudah jadi orang-orang penting ataupun sok penting nantinya dan juga yang terpenting kalau nikah jangan nian dak ngundang,.. . Pokoknya kalo soal yang ini, we are the 1st who have to know it, hheeee,….
Rasanya tidak akan cukup untuk menuliskan segala yang telah kita lalui bersama selama 3 tahun 8 bulan ini. Sedih suka sudah kita arungi. Segala macam rintangan dalam berteman dan mencari teman sejati telah kita dapatkan dan sudah seharusnya kita mulai bersifat dewasa dalam bertindak demi masa depan kita nanti. Teman hanya sebagai supporter yang mendukung dan membantu apa yang bisa ia bantu, dan selebihnya kita sendiri yang menentukan nasib kita sebagaimana Allah telah memberikan gambaran terhadap masa depan kita bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali ia merubahnya sendiri.
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”( Al Hujuraat:13). Kita yang memang berasal dari daerah berbeda-beda namun bisa membaur satu sama lain karena adanya rasa tenggang rasa dan saling mengisi satu sama lain.

You know me so well and I know you so well, kau dan aku bersama SELAMANYA,..
Walaupun nantinya kita sudah jauh, tapi tetaplah ingat kalimat “jauh di mata dekat di hati”


_Salam semangat selalu ya teman-temanku, the fighting dreamers in PGSD,.. Semoga dapat diambil manfaat dan pelajaran dari apa-apa yang telah kita lalui dalam kebersamaan yang singkat ini_

Dan yang penting !!!!!!!!!


UNTUKMU TEMAN
Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu
Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan
Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya
»»  READMORE...