Selasa, 13 Maret 2012
Elegiku Sendiri...
ELEGI
Sebenarnya saya ingin membuat puisi. Tapi karena keterbatasan kata-kata konotasi saya dalam berpuisi maka saya tuangkan dalam bentuk narasi sajalah… Namanya saja penulis, jadi ya saya suka bercerita lewat karangan saja…
Elegi… suatu kata yang pertama kali saya kenal ketika menonton film Dealova. Walau jalan ceritanya memang biasa saja, tapi mungkin karena soundtrack song yang disajikan sangatlah menarik perhatian masyarakat.
Elegi… Ingin kutuangkan hasrat “denyut” kata hatiku dalam suatu narasi yang pendek ini berupa elegi…
Suatu perasaan yang memendam lama keinginan untuk menemukan suatu elemen kutub positif agar dapat menghasilkan energy di dalam hidupku, dan menjadi suatu pasangan dalam kedamaian hidup menjalani apa-apa yang diwajibkan Allah SWT dan Rasulullah. Elegi dan kehampaan yang kualami ketika sesuatu masalah yang hanya akan kuceritakan kepada Allah, bahkan orang tua saya pun sering tidak memberikan solusi tatkala saya menceritakan masalahku sehingga betapa malasnya untuk sharing kepada mereka.
Saya butuh sebuah partner hidup dan saya menginginkan kata elegi itu menjauh dari pikiran saya. Jika mengingat elegi, saya teringat kepada gunung. Saya ingin sekali mendaki gunung dan berada di puncaknya dan berteriak dengan segala kegalauanku dimana akan kuungkapkan segala mimpi dan cita-cita di sana. Akan kuteriakkan sekencang-kencangnya kepada orang-orang yang berada di kaki gunung agar mereka mendengarkan juga kegalauanku akan mimpi-mimpi yang belum sepenuhnya dijawab oleh Allah…
Namun terlalu picisan jika mengumbar secara detail perasaan karena sebenarnya saya merasa takut untuk mengungkapkannya di sini, di dunia maya. Namun sungguh tak bisa kupungkiri elegi yang semakin lama semakin memenuhi isi kepala dan hati...
Pernahkah terpikir olehmu ketika sebuah bayangan yang hadir tatkala terang dan pergi tatkala hari sudah mulai gelap. Ia hanya hadir ketika masa senang dan seketika pergi seperti angin lalu yang seakan-akan kau tidaklah penting baginya. Ini bukan karena rasa pamrih atau apapun tentang keikhlasan… hanya saja perasaan kehilangan memang ada ketika si bayangan telah hilang dan tenggelam bersama kegelapan. Namun saya tidak akan pernah meratapi bayangan itu dan kini mencoba bangkit dari bumi ke langit (pinjem judul lagu orang).
Elegi..
Hilanglah bersama angin utara
Bersama khayalan yang terjatuh dari mimpi
Tinggalkanku meratapi bayangan maya
Menjauhkanmu dari tatapan hati
Elegi…
Tidakkah kau tahu akan fatamorgana hati
Mengendap-endap masuk
Berusaha mencari celah
Kemudian merayap meninggalkan mimpi
Menggalauku kini
Meski terasa sulit melepaskan makna elegi yang begitu lancangnya datang menghampiri hati kemudian merasuki pikiran dan menjadi racun di nadi… Sesuram itukan elegi…?
Jawaban selalu kunantikan dari Yang Di Atas... Akankah elegi, kerinduan, dan kesepian, lonelyness akan berakhir.. Hhhmm… Pastinya banyak yang ngira kalo saya ingin cepat-cepat m*n*k*h kan..?? Hhee.. Bukan..!!!! Saya sebenarnya ingin mengarungi hidup terlebih dahulu… Mencoba nyali dan mentalku dalam “mengubek-ubek” dunia. Menemukan partner hidupku di antara mereka yang juga antusias dengan mimpi-mimpiku untuk mengajar di pelosok negeri di Indonesia… Sungguh menyukai anak-anak penurut yang masih bermimpi melanjutkan pendidikan dan keluar dari kemiskinan dan kebodohan… Saya hanya ingin mendapatkan partner saya yang mempunyai visi yang sama dengan saya.. Oleh karena itu saya akan stop kepada sebuah rasa picisan kepada orang-orang yang pengecut dan memulai mengarungi hidup di antara samudra dunia. Meski nantinya akan mendapatkan pertentangan dari banyak pihak terutama dari orang tua. Namun, kuyakini Allah akan meridhoi mimpiku ini.. Membangun tanah pelososk Indonesia untuk bangkit dan melawan kemiskinan dan kebodohan…
Kepada elegi dan kedukaan yang belum berujung kemana kan berakhir menemukan tepiannya… Kan kutemukan di antara puing-puing kepingan mozaik kehidupanku yang seakan-akan kini seperti membiarkanku dalam kesendirian mengayunkan langkahku meraih mimpi…
Elegi… Biarlah hidup dan selamanya kan selalu terpatri dalam hati…
Saya seperti hendak menangkap angin, selalu terlepas tanpa pernah bisa kau genggam…
Kini biarlah kuturuti alur hidupku berdasarkan rancangan khayalan hidupku sesuai dengan tuntunan ridho Allah…
130312
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar