Selasa, 19 Juni 2012

Sajak Putih-Chairil Anwar

SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah...
»»  READMORE...

Syair Rabiah al Adawiyah

Kumpulan Syair Cinta Rabiah al-Adawiya by Rahmad Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpa-Mu Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip Manusia terlena dalam buai tidur lelap Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup Tuhanku, demikian malampun berlalu Dan inilah siang datang menjelang Aku menjadi resah gelisah Apakah persembahan malamku Kau Terima Hingga aku berhak mereguk bahagia Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka, Demi kemahakuasaan-Mu lah Inilah yang akan selalu ku lakukan Selama Kau Beri aku kehidupan Demi kemanusiaan-Mu, Andai Kau Usir aku dari pintu-Mu Aku tak akan pergi berlalu Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu *********** Ya Allah, apa pun yang akan Engkau Karuniakan kepadaku di dunia ini, Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu Dan apa pun yang akan Engkau Karuniakan kepadaku di akhirat nanti, Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku *********** Aku mengabdi kepada Tuhan Bukan karena takut neraka Bukan pula karena mengharap masuk surga Tetapi aku mengabdi, Karena cintaku pada-Nya Ya Allah, jika aku menyembah-Mu Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya Dan jika aku menyembah-Mu Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya Tetapi, jika aku menyembah-Mu Demi Engkau semata, Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu Yang abadi padaku *********** Ya Allah Semua jerih payahku Dan semua hasratku di antara segala Kesenangan-kesenangan Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan Adalah untuk berjumpa dengan-Mu Begitu halnya dengan diriku Seperti yang telah Kau katakan Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki *********** Aku mencintai-Mu dengan dua cinta Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir Hingga Engkau ku lihat Baik untuk ini maupun untuk itu Pujian bukanlah bagiku Bagi-Mu pujian untuk semua itu *********** Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadirat-Mu Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau *********** Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri Ketika Kekasih bersamaku Cinta-Nya padaku tak pernah terbagi Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku Kapan dapat kurenungi keindahan-Nya Dia akan menjadi mihrabku Dan rahasia-Nya menjadi kiblatku Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini O, penawar jiwaku Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mau-Mu Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan-Mu O, sukacita dan nyawaku, semoga kekal lah Jiwaku, Kau lah sumber hidupku Dan dari-Mu jua birahiku berasal Dari semua benda fana di dunia ini Dariku telah tercerah Hasratku adalah bersatu dengan-Mu Melabuhkan rindu *********** Sendiri daku bersama Cintaku Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang Lintas dan penglihatan batin Melimpahkan karunia atas do’a ku Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna Antara takjub atas keindahan dan keagungan-Nya Dalam semerbak tiada tara Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu Lihat, dalam wajah-Nya Tercampur segenap pesona dan karunia Seluruh keindahan menyatu Dalam wajah-Nya yang sempurna Lihat Dia, yang akan berkata “Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.” *********** Rasa riangku, rinduku, lindunganku, Teman, penolong dan tujuanku, Kaulah karibku, dan rindu pada-Mu Meneguhkan daku Apa bukan pada-Mu aku ini merindu O, nyawa dan sahabatku Aku remuk di rongga bumi ini Telah banyak karunia Kau berikan Telah banyak.. Namun tak ku butuh pahala Pemberian ataupun pertolongan Cinta-Mu semata meliput Rindu dan bahagiaku Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga Adapun di sisi-Mu aku telah tiada Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau Kau adalah rasa riangku Kau tegak dalam diriku Jika akku telah memenuhi-Mu O, rindu hatiku, aku pun bahagia “Semoga syair cinta Rabiah al-Adawiyah menjadi renungan kita semua, amin” Sumber : http://madtauhid.wordpress.com/2010/01/26/kumpulan-syair-cinta-rabiah-al-adawiyah/
»»  READMORE...

Azab dan Sengsara

Roman ini sangat menyedihkan alur ceritanya... Ringkasan Novel: AZAB DAN SENGSARA — awan sundiawan AZAB DAN SENGSARA (KISAH KEHIDUPAN SEORANG GADIS) Pengarang : Merari Siregar Penerbit : Balai Pustaka Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan sengsara ini sebagai novel pertama di Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan novel ini sebagai novel pertama lebih banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka. 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908. Sungguhpun sebenarnya tidak sedikit novel yang terbit sebelum Balai Pustaka berdiri, dalam hal pemakaian bahasa Melayu sekolahan, Azab dan Sengsara yang mengawalinya. Dalam konteks itulah novel ini menempati kedudukan penting. Tema Azab dan Sengsara sendiri yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungan nya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Novel-novel yang terbit di luar Balai Pustaka-yang umumnya menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar-juga banyak yang bertema demikian. Novel bahasa Sunda, Baruang ka Nu Ngora (Racun Bagi Kaum Muda; 1914) karya D.K. Ardiwinata (1866-1947) yang diterbitkan Balai Pustaka, juga bertema perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Jadi, secara tematik, novel Azab dan Sengsara, belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat. Ini ringkasannya Aminuddin adalah anak Baginda Diatas, seorang kepala kampong yang terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Masyarakat disekitar Sipirok amat segan dan hormat kepada keluarga itu. Adapun Mariamin, yang masih punya ikatan dengan keluarga itu, kini tergolong anak miskin. Ayah Mariamin, Sutan Baringin almarhum, sebenarnya termasuk keluarga bangsawan kaya. Namun, karena semasa hidupnya terlalu boros dan serakah, ia akhirnya jatuh miskin dan meninggal dalam keadaan demikian. Bagi Aminuddin, kemiskinan keluarga itu tidaklah menghalanginya unuk tetap bersahabat dengan Mariamin. Keduanya memang sudah berteman akrab sejak kecil dan terus meningkat hingga dewasa. Tanpa terasa benih cinta kedua remaja itu pun tumbuh subur. Belakangan, mereka sepakat untuk hidup bersama, membina rumah tangga. Aminuddin pun berjanji hendak mempersunting gadis itu jika kelak ia sudah bekerja. Janji pemuda itu akan segera dilaksanakan jika ia sudah mendapat pekerjaan di Medan. Aminuddin segera mengirim surat kepada kekasihnya bahwa ia akan segera membawa Mariamin ke Medan. Berita itu tentu saja amat menggermbirakan hati Mariamin dan ibunya yang memang selalu berharap agar kehidupannya segera berubah. Setidak-tidaknya, ia dapat melihat putrinya hidup bahagia. Niat Aminuddin itu disampaikan pula kepada kedua orang tuanya. Ibunya sama sekali tidak berkeberatan. Bagaimanapun, almarhum ayah Mariamin masih kakak kandungnya sendiri. Maka, jika putranya kelak jadi kawin dengan Mariamin, perkawinan itu dapatlah dianggap sebagai salah satu usaha menolong keluarga miskin itu. Namun, lain halnya pertimbangan Baginda Diatas, Ayah Aminuddin. Sebagai kepala kampung yang kaya dan disegani, ia ingin agar anaknya beristrikan orang yang sederajat. Menurutnya, putranya lebih pantas kawin dengan wanita dari keluarga kaya dan terhormat. Oleh karena itu, jika Aminuddin kawin dengan Mariamin, perkawinan itu sama halnya dengan merendahkan derajat dan martabat dirinya. Itulah sebabbya, Baginda Diatas bermaksud menggagalkan niat putranya. Untuk tidak menyakiti hati istrinya, Baginda Diatas mengajaknya pergi ke seorang dukun untuk melihat bagaimana nasib anaknya jika kawin dengan Mariamin. Sebenarnya, itu hanya tipu daya Baginda Diatas. Oleh karena sebelumnya, dukun itu sudah mendapat pesan tertentu, yaitu memberi ramalan yang tidak menguntungkan rencana dan harapan Aminuddin. Mendengar perkataan si dukun bahwa Aminuddin akan mengalami nasib buruk jika kawin dengan Mariamin, ibu Aminuddin tidak dapatberbuat apa-apa selain menerima apa yang menurut suaminya baik bagi kehidupan anaknya. Kedua orang tua Aminuddin akhirnya meminang seorang gadis keluarga kaya yang menurut Baginda Diatas sederajat dengan kebangsawanan dan kekayaannya. Aminuddin yang berada di Medan, sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang tuanya. Dengan penuh harapan, ia tetap menanti kedatangan ayahnya yang akan membawa Mariamin. Selepas peminangan itu, ayah Aminuddin mengirim telegram kepada anaknya bahwa calon istrinya akan segera dibawa ke Medan. Ia juga meminta agar Aminuddin menjemputnya di stasiun. Betapa sukacita Aminuddin setelah membaca telegram ayahnya. Ia pun segera mempersiapkan segala sesuatunya. Ia membayangkan pula kerinduannya pada Mariamin akan segera terobati. Namun, apa yang terjadi kemudian hanyalah kekecewaan. Ternyata, ayahnya bukan membawa pujaan hatinya, melainkan seorang gadis yang bernama Siregar. Sungguhpun begitu, sebagai seorang anak, ia harus patuh pada orang tua dan adapt negerinya. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima gadis yang dibawa ayahnya. Perkawinan pun berlangsung dengan keterpaksaan yang mendalam pada diri Aminuddin. Berat hati pula ia mengabarkannya pada Mariamin. Bagi Mariamin, berita itu tentu saja sangat memukul jiwanya. Harapannya musnah sudah. Ia pingsan dan jatuh sakit sampai beberapa lama. Tak terlukiskan kekecewaan hati gadis itu. Setahun setelah peristiwa itu, atas kehendak ibunya, Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang lelaki yang sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya. Ibunya hanya tahu, bahwa Kasibun seorang kerani yang bekerja di Medan. Menurut pengakuan lelaki itu, ia belum beristri. Dengan harapan dapat mengurangi penderitaan ibu-anak itu, ibu Mariamin terpaksa menjodohkan anaknya dengan Kasibun. Belakangan diketahui bahwa lelaki itu baru saja menceraikan istrinya hanya karena akan mengawini Mariamin. Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Namun rupanya, penderitaan wanita itu belum juga berakhir. Suaminya ternyata mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular bila keduanya melakukan hubungan suami-istri. Inilah sebabnya, Mariamin selalu menghindar jika suaminya ingin berhubungan intim dengannya. Akibatnya, pertengkaran demi pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga itu tak dapat dihindarkan. Hal yang dirasakan Mariamin bukan kebahagiaan, melainkan penderitaan berkepanjangan. Tak segan-segan Kasibun menyiksanya dengan kejam. Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang demikian itu, secara kebetulan, Aminuddin dating bertandang. Sebagaimana lazimnya kedatangan tamu, Mariamin menerimanya dengan senang hati, tanpa prasangka apa pun. Namun, bagi Kasibun, kedatangan Aminuddin itu makin mengobarkan rasa cemburu dan amarahnya. Tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sejadi-jadinya. Tak kuasa menerima perlakuan kejam Kasibun, Mariamin akhirnya mengadu dan melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun harus membayar denda dan sekaligus memutuskan hubungan tali perkawinan dengan Mariamin. Janda Mariamin akhirnya terpaksa kembali ke Sipirok, kampong halamannya. Tidak lama kemudian, penderitaay yang silih berganti menimpa wanita itu, sempurna sudah dengan kematiannya. “Azab dan sengsara dunia ini telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jasad yang kasar itu.” (hlm. 163). Taken from http://awan965.wordpress.com/2009/04/14/ringkasan-novel-azab-dan-sengsara/
»»  READMORE...

Kasih Tak Sampai (Siti Nurbaya)

Saya bukannya ingin me-melow-kan suasana di blog ini... Tapi karena blog ini memang blog sastra maka saya ingin memposting sebuah sinopsis buku roman Indonesia yang sudah saya "lahap" sejak SMA kelas 1. Dan salah satunya ialah roman Kasih Tak Sampai (Siti Nurbaya) ini... Selanjutnya nanti saya juga akan memperkenalkan roam-roman Indonesia yang sudah saya baca sejak SMA... Tapi tulisan ini saya juga copas dari http://awan965.wordpress.com/2009/04/14/ringkasan-novel-siti-nurbaya/ Tapi mungkin juga akan bermanfaat bagi Anda yang menyukai roman jadoel,, hhee... Ringkasan Novel: Siti Nurbaya April 14, 2009 — awan sundiawan SITTI NURBAYA (Kasih Tak Sampai) Pengarang : Marah Rusli (7 Agustus 1889-17 Januari 1968) Penerbit : Balai Pustaka Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya. Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi. Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita. Di Malaysia, novel ini terbit pula dalam edisi bahasa Melayu. Pada tahun 1963 saja, di Malaysia itu, Sitti Nurbaya sudah mengalami cetak ulang ke-11. Untuk pengajaran sastra di tingkat sekolah lanjutan, novel ini merupakan salah satu novel wajib. Tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dengan pemeran utamanya Novia Kolopaking (sebagai Sitti Nurbaya) dan Gusti Randa (sebagai Samsulbahri). Inilah ringkasannya. Sutan Mahmud Syah termasuk salah seorang bangsawan yang cukup terkenal di Padang. Penghulu yang sangat disegani dan dihormati penduduk disekitarnya itu, mempunyai putra bernama Samsulbahri, anak tunggal yang berbudi dan berprilaku baik. Bersebelahan dengan rumah Sutan Mahmud Syah, tinggal seorang Saudagar kaya bernama Baginda Sulaiman. Putrinya, Sitti Nurbaya, juga merupakan anak tunggal keluarga kaya-raya itu. Sebagaimana umumnya kehidupan bertetangga, hubungan antara keluarga Sutan Mahmud Syah dan keluarga Baginda Sulaiman, berjalan dengan baik. Begitu pula hubungan Samsulbahri dan Sitti Nurbaya. Sejak anak-anak sampai usia mereka menginjak remaja, persahabatan mereka makin erat. Apalagi, keduanya belajar di sekolah yang sama. Hubungan kedua remaja itu berkembang menjadi hubungan cinta. Perasaan tersebut baru mereka sadari ketika Samsulbahri akan berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Sementara itu, Datuk Meringgih, salah seorang saudagar kaya di Padang, berusaha untuk menjatuhkan kedudukan Baginda Sulaiman. Ia menganggap Baginda Sulaiman sebagai saingannya yang harus disingkirkan, di samping rasa iri hatinya melihat harta kekayaan ayah Sitti Nurbaya itu. “Aku sesungguhnya tidak senang melihat perniagan Baginda Sulaiman, makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia bersaing dengan aku. Oleh sebab itu, hendaklah ia dijatuhkan,” demikian Datuk Meringgih berkata (hlm. 92). Ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk membakar dan menghancurkan bangunan, took-toko, dan semua harta kekayaan Baginda Sulaiman. Akal busuk Datuk Meringgih berhasil. Baginda Sulaiman kini jatuh miskin. Namun, sejauh itu, ia belum menyadari bahwa sesungguhnya, kejatuhannya akibat perbuatan licik Datuk Meringgih. Oleh karena itu, tanpa prasangka apa-apa, ia meminjam uang kepada orang yang sebenarnya akan mencelakakan Baginda Sulaiman. Bagi Datuk Meringgih kedatangan Baginda Sulaiman itu ibarat “Pucuk dicinta ulam tiba”, karena memang hal itulah yang diharapkannya. Rentenir kikir yang tamak dan licik itu, kemudian meminjamkan uang kepada Baginda Sulaiman dengan syarat harus dapat dilunasi dalam waktu tiga bulan. Pada saat yang telah ditetapkan, Datuk Meringgih pun dating menagih janji. Malang bagi Baginda Sulaiman. Ia tak dapat melunasi utangnya. Tentu saja Datuk Meringgih tidak mau rugi. Tanpa belas kasihan, ia akan mengancam akan memenjarakan Baginda Sulaiman jika utangnya tidak segera dilunasi, kecuali apabila Sitti Nurbaya diserahkan untuk dijadikan istri mudanya. Baginda Sulaiman tentu saja tidak mau putrid tunggalnya menjadi korban lelaki hidung belang itu walaupun sbenarnya ia tak dapat berbuat apa-apa. Maka, ketika ia sadar bahwa dirinya tak sanggup untuk membayar utangnya, ia pasrah saja digiring polisi dan siap menjalsni hukuman. Pada saat itulah, Sitti Nurbaya keluar dari kamarnya dan menyatakan bersedia menjadi istri Datuk Meringgih asalkan ayahnya tidak dipenjarakan. Suatu putusan yang kelak akan menceburkan Sitti Nurbaya pada penderitaan yang berkepanjangan. Samsulbahri, mendengar peristiwa yang menimpa diri kekasihnya itu lewat surat Sitti Nurbaya, juga ikut prihatin. Cintanya kepada Sitti Nurbaya tidak mudah begitu saja ia lupakan. Oleh karena itu, ketika liburan, ia pulang ke Padang, dan menyempatkan diri menengok Baginda Sulaiman yang sedang sakit. Kebetulan pula, Sitti Nurbaya pada saat yang sama sedang menjenguk ayahnya. Tanpa sengaja, keduanya pun bertemu lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing. Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datanglah Datuk Meringgih. Sifat Meringgih yang culas dan selalu berprasangka itu, tentu saja menyangka kedua orang itu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Samsulbahri yang tidak merasa tidak melakukan hal yang tidak patut, berusaha membela diri dari tuduhan keji itu. Pertengkaran pun tak dapat dihindarkan. Pada saat pertengkaran terjadi, ayah Sitti Nurbaya berusaha datang ke tempat kejadian. Namun, karena kondisinya yang kurang sehat, ia jatuh dari tangga hingga menemui ajalnya. Ternyata ekor perkelahian itu tak hanya sampai di situ. Ayah Samsulbahri yang merasa maluatas tuduhan yang ditimpakan kepada anaknya, kemudian mengusir Samsulbahri. Pemuda itu terpaksa kembali ke Jakarta. Sementara Sitti Nurbaya, sejak ayahnya meninggal merasa dirinya telah bebas dan tidak perlu lagi tunduk dan patuh kepada Datuk Meringgih. Sejak saat itu ia tinggal menumpang bersama salah seorang familinya yang bernama Aminah. Sekali waktu, Sitti Nurbaya bermaksud menyusul kekasihnya ke Jakarta. Namun, akibat tipu muslihat dan akal licik Datuk Meringgih yang menuduhnya telah mencuri harta perhiasan bekas suaminya itu, Sitti Nurbaya terpaksa kembali ke Padang. Oleh karena Sitti Nurbaya tidak bersalah, akhirnya ia bebas dari tuduhan. Namun, Datuk Meringgih masih juga belum puas. Ia kemudian menyuruh seseorang untuk meracun Sitti Nurbaya. Kali ini, perbuatannya berhasil. Sitti Nurbaya meninggal karena keracunan. Rupanya, berita kematian Sitti Nurbaya membuat sedih ibu Samsulbahri. Ia kemudian jatuh sakit, dan tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Berita kematian Sitti Nurbaya dan ibu Samsulbahri, sampai juga ke Jakarta. Samsulbahri yang merasa amat berduka, mula-mula mencoba bunuh diri. Beruntung, temannya, Arifin, dapat menggagalkan tindakan nekat Samsulbahri. Namun, lain lagi berita yang sampai ke Padang. Di kota ini, Samsulbahri dikabarkan telah meninggal dunia. Sepuluh tahun berlalu. Samsulbahri kini telah menjadi serdadu kompeni dengan pangkat letnan. Ia juga sekarang lebih dikenal dengan nama Letnan Mas. Sebenarnya, ia menjadi serdadu kompeni bukan karena ia ingin mengabdi kepada kompeni, melainkan terdorong oleh rasa frustasinya mendengar orang-orang yang dicintainya telah meninggal. Oleh karena itu, ia sempat bimbang juga ketika mendapat tugas harus memimpin pasukannya memadamkan pemberontakan yang terjadi di Padang. Bagaimanapun, ia tak dapat begitu saja melupakan tanah leluhurnya itu. Ternyata pemberontakan yang terjadi di Padang itu didalangi oleh Datuk Meringgih. Dalam pertempuran me;awan pemberontak itu, Letnan Mas mendapat perlawanan cukup sengit. Namun, akhirnya ia berhasil menumpasnya, termasuk juga menembak Datuk Meringgih, hingga dalang pemberontak itu tewas. Namun, Letnan Mas luka parah terkena sabetan pedang Datuk Meringgih. Rupanya, kepala Letnan Mas yang terluka itu, cukup parah. Ia terpaksa dirawat dirumah sakit. Pada saat itulah timbul keinginan Letnan Mas untuk berjumpa dengan ayahnya. Ternyata, pertemuan yang mengharukan antara “Si anak yang hilang” dan ayahnya itu merupakan pertemuan terakhir sekaligus akhir hayat kedua orang itu. Oleh karena setelah Letnan Mas menyatakan bahwa ia Samsulbahri, ia mengembuskan napas di depan ayahnya sendiri. Adapun Sutan Mahmud Syah, begitu tahu bahwa Samsulbahri yang dikiranya telah meninggal beberapa tahun lamanya tiba-tiba kini tergolek kaku menjadi mayat akhirnya pun meninggal dunia pada keesokan harinya.
»»  READMORE...

Rabu, 06 Juni 2012

Menanam Asa Meraih Mimpi

5 Juni 2012 pukul 11.30an.. kubuka web sps.upi.edu web yg mgkn setiap menit kubuka karena sebuah postingan yg menentukan arah hidupku kelak.. ya.. aku lulus di prodi pendas sps upi.. begitu bahagianya dan sujud syukurku kpd Allah SWT. Tak henti2ny mengucap syukur... Walau mmg bukan beasiswa.. tp aku yakin Allah tdk akan menelantarkanku sendirian di bandung.. rejekiNya pasti akan selalu mengalir utkku.. Bandung... dulu aku pernah menuliskan sebuah status di facebookku bahwa aku ingin tinggal di bandung.. Daannn... sekarang itu akan terwujud.. Ini adalah permintaanku yg kedua yg lgsg diwujudkan Allah.. Dulu aku jg pernah menuliskan sebuah status di facebook bahwa aku ingin kembali berkutat dg trigonometri, kalkulus, aljabar, dan pljrn matematika lainnya.. Daann sekaraaang aku pun sdh menjadi guru matematika di bimbel bergengsi di palembang yakni nurul fikri.. Betapa senangnya ketika utk tahap pertama tahapan tes tertulis lulus.. begitu jg tahap mikroteaching dan wawancara.. it's so amazing.. subhanallah.. Aku yg sdh 4 thn tdk berkutat dlm metematika smp dan sma bs diterima.. Allah memang tau yg terbaik bagi hambaNya.. Di sana aku bertemu dg org2 yg sdh dewasa pola pikirnya.. Aku pun melalui tahapan2 ujian menuju dewasa.. Namun, Allah selalu menguatkanku.. Sekarang aku sudah melalui tahapan ujian menuju masa depanku.. DOSEN Target yang akan kucapai ketika kuliah S2 ini adalah harus bs mencapai nilai ipk cumlaude lagi.. Dan harus bs lancar berbahasa inggris karena mimpiku utk thn 2017 ialah kuliah S3 di Melbourne University :D hahhaa.. mungkin terdgr impossible tapi pasti akan kubuktikan bahwa aku mampu.. HHmm tapi sepertinya aku.mau nikah dulu ya br ngambil S3 :D Selama di bandung nanti, aku akan mencari kosan di jln. gerlong.. Dekat dg upi dan tentunya masjid Daarut Tauhid.. Betapa bahagianya bahwa aku memang akhirnya bisa mendekatkan diri dg masjid.. Bs sholat subuh, maghrib, & isya di masjid DT.. Mendengarkan kajian subuh secara lgsg dr aa gym dan ustad2 lainnya.. Bahkan ini pun sudah pernah kutuliskan di status facebook bahwa aku ingin punya rumah dekat dg masjid.. Daann.. pastinya sekarang mimpi itu pun terwujud jugaa.. Aku merasakan nikmat yg sangat luaarrr biasaaa dr Allah.. Allah sayang sekali.. Rejekiku pun dikasihNya pas2an.. pas perlu ada :D jadi merasa org terkaya di dunia.. Sekrg aku hanya menyerahkan masalah biaya registrasi dan kosan kpd Allah.. Biarlah Allah yg mengatur bagaimana caraku membayarnya karena keyakinanku kpd Allah takkan pernah bergeser sedikitpun... 060612, 21:31
»»  READMORE...

Kamis, 31 Mei 2012

berpikir sejenak

Sungguh aku memang senang dg kesendirianku... Namun terkadang kesendirian inilah yg membunuhku.. Membunuh ketidakmampuanku dalam menyelesaikan masalah hidup.. Mulai dari kecemasan akan masa depan yg blm menemukan cahaya terang.. Maupun misteri pendamping hidupku kelak... Kesendirianku skrg mampu membuktikan kpd diriku sendiri bahwa aku bs mandiri dan bersama semangat yg aku punyai maka aku akan mampu mengarungi hidup.. Ikhtiar dan tawakal kpd Allah SWT sbg senjataku utk melawan derasnya kepungan masalah hidup... Seseorg yg dulu kuanggap akan menjadi pendamping hidupku kelak ternyata telah mengecewakanku... Yah bukan jodoh ya.. Memang ak tdk mengharapkan dia jd jodohku sih (hhaa ngeles ya..) karna aku memang mnginginkan seseorg yg cerdas dlm bidang keilmuan eksak seperti mtk, fisika, ataupun ekonomi akutansi... Dan juga cita-citaku utk menjadi dosen takkan pernah menyurutkan langkahku utk mengambil kuliah S2 dan selanjutnya S3... Sungguh aku haus akan ilmu.. Ilmu matematika tepatnya.. Sangat suka sekali dg belajar dan menjadi siswa :)
»»  READMORE...

Selasa, 13 Maret 2012

Ga tau mau dikasih judul apa :)

“Aduuhh.. maaf saya buru-buru…” Ujar Pak Alam ketika ia menabrak salah satu pegawainya. “Oh, Pak Alam.. Ya gak apa-apa, Pak.. Silakan..” Bergegas Pak Alam menuju ke luar kantornya. Wah, deras pula hujannya, gerutunya dalam hati. Mobil yang akan ia pakai berada agak di dekat pagar kantor dan itu berarti ia harus berjalan melewati rintik hujan yang semakin deras. Dilihatnya seorang ojek payung. “Ojek.. Ojek payung…” Panggilnya kepada seorang ojek payung cilik. Agak kesulitan rupanya ia menemukan ojek payung yang sedang kosong. Maklum, pada saat itu bukan hanya ia yang memerlukan jasa ojek payung. Setelah si ojek payung itu menghampirinya dan membawanya bergegas ke tempat mobil yang ia parker, Pak Alam pun memberikan uang selembar lima ribuan. “Terima kasih, Pak..” Mobil Pak Alam pun melaju kencang di bawah derasnya hujan menuju ke sebuah klinik bersalin yang berjarak 30 menit dari kantornya. Istrinya akan melahirkan anaknya yang kedua. Seorang putri yang telah 7 tahun ini ia harapkan akan lahir. Anak pertamanya seorang laki-laki yang kini duduk di kelas 3 SD. Sekilas ia teringat dengan si ojek payung tadi. Jika ia tidak bekerja keras di 9 tahun lalu, mungkin anaknya juga akan merasakan nasib yang sama dengan anak ojek payung tadi, pikirnya. Perlahan Pak Alam memacu kecepatan kendaraan dengan tinggi. Ia kembali menerima telepon dari mertunya jika istrinya sedang mengerang kesakitan sambil memanggil namanya. Di tengah perjalanan, ketika melewati tikungan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan seorang wanita yang sedang berlari menyebrang untuk mendapatkan tempat berteduh di sebuah halte tak terpakai. Tanpa bisa mengelak, Pak Alam pun menabrak wanita muda itu dan spontan saja orang-orang yang melihat kejadian tersebut berusaha menyelamatkan wanita itu. Pak Alam yang sedang dilanda kepanikan akan istrinya dan kini ditambah lagi dengan kepanikan atas insiden tabrakan langsung saja ia tancap gas meninggalkan lokasi kecelakaan tadi. Orang-orang yang sibuk mengurusi korban, tidak lagi sempat melihat nomor kendaraan mobil Pak Alam sehingga tidak bisa meminta pertanggungjawabannya. Wanita korban tabrak lari itu dilarikan ke puskesmas terdekat. __@@__ Ali berulang kali melihat ke luar jendela, dimana Kak Nurul?, tanyanya dalam hati. Sudah pukul 6 kurang 20 menit namun Nurul belum juga pulang. Biasanya ia sudah pulang pukul 5 sore. Atau karena hujan ya? Ah, entahlah…,gumam Ali. Ali pun segera mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh kakaknya. Sekilas ia melihat foto dirinya, Nurul, dan ibunya yang diambil sebelum ibunya pergi menjadi TKI di Yaman. Kini sudah 5 tahun ia dan kakaknya berpisah dengan ibunya. Alhamdulillah pemberitaan yang sering ia baca di koran mengenai TKI yang disiksa majikan tidak sampai menimpa ibunya. Sang ibu malahan sering menelpon mereka yang mereka terima melalui handphone tetangga. Betapa senangnya ia ketika mengetahui ibunya akan pulang 8 bulan lagi da tidak akan menjadi TKI lagi di sana. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Nurul belum pulang. Ali pun mulai cemas. Ia kemudian pergi ke rumah Bayu meminta bantuan untuk mencari kakaknya. Ketika ia melewati rumah Pak Toyo, ia pun dipanggil si pemilik rumah. “Ali… Bagaimana dengan luka kakakmu?” Tanya Pak Toyo. “Luka? Maaf, Pak. Siapa yang luka? Kakakku, Kak Nurul maksudnya?” Ujar Ali. “Lho, bukannya tadi kakakmu menjadi korban tabrak lari dan sekarang di Puskesmas Sejahtera?” “Apa? Kak Nurul jadi korban tabrak lari?” Tanpa menunggu penjelasan panjang dari Pak Toyo, Ali pun segera bergegas ke rumah Bayu dan meminta ditemani ke Puskesmas Sejahtera. Sepanjang perjalanan dengan menggunakan sepeda yang dikayuh oleh Bayu, Ali pun menangis. Tak terbayang olehnya jika sang kakak akan menderita luka yang parah. “Sudahlah Ali… Lebih baik kamu berdoa saja, itu akan membuatmu optimis.” Ujar Bayu. Bayu yang 3 tahun lebih tua dari Ali memang sudah mengalami “pendidikan” hidup sejak ia masih berumur 5 tahun. Seorang anak transmigran yang serba kekurangan yang akhirnya kembali mengadu nasib ke kota bersama ayahnya. Sesampainya di puskesmas, Ali mendapati kakaknya sedang tidur istirahat. Ali pun menangis seakan-akan ia telah kehilangan kakaknya. Nurul yang mendengar suara tangis Ali perlahan terbangun dan membuka matanya. Nurul mengusap-usap kepala Ali, adik satu-satunya yang ia miliki. Ia pun ikut meneteskan air mata. Ia rindu kepada ibunya. Di saat-saat pilu seperti ini, mereka menginginkan sosok seorang ibu yang akan menghapus kepedihan akan luka yang mereka hadapi. Nurul merasa belum memberikan sesuatu yang terbaik untuk Ali berjanji tidak akan meninggalkan Ali. Ketika ia tertabrak, ia sedang mengurus berkas-berkas untuk mengikuti kursus menjahit yang diadakan gratis untuk anak putus sekolah. Ia ingin mencari uang dengan cara baik yakni menjahit. Menjadi penjual air minum mineral di lampu merah perempatan jalan maupun di terminal amatlah rawan baginya. Sedangkan Ali masih bersekolah di kelas 3 SD sepulang sekolah harus menjual koran dan jika hujan tiba, ia menjadi ojek payung karena koran yang ia jajakan tidak akan laku tatkala hujan turun. “Kak…” “Apa sayang?” Dengan terbata-bata Ali menggenggam tangan kakaknya dan mengusapkannya ke pipinya, “Kakak jangan tinggalin Ali sendiri ya.. Kakak gak usah kerja dulu, biar Ali saja cari uang. Tabungan Ali juga masih ada kok.. Nanti Ali gak usah sekolah biar pagi-pagi bisa cari uang, jadi nanti dapet uangnya lebih banyak lagi…” Nurul tersenyum dengan kepolosan adiknya. “Ali harus tetep sekolah. Ali mau jadi orang bodoh?” Ali pun menggeleng. “Nah, jadi harus sekolah terus ya.. Biar rejeki kita Allah yang atur..” Rinai hujan di malam itu kian menambah pilunya hati dua kakak beradik itu. Bayu pun pamit ketika ayahnya menjemput pulang. Ali malam itu menginap di puskesmas untuk menjaga Nurul. __@@__ “Wah, cucuku sekarang lengkap ya.. Laki-laki dan kini perempuan…” Ujar ibu Ayik, mertua Pak Alam. Pak Alam pun tersenyum. Putri kecilnya lahir dengan selamat dan ia pun masih sempat menemani istrinya berjuang antara hidup dan mati. Hari sudah pukul 9 malam. Dilihatnya putrinya yang ia beri nama Putri Humairah sedang tertidur pulas di samping ibunya. Dan sang jagoan ciliknya, Abian Satria pun sudah tertidur di kursi setelah sibuk ikut menangis ketika melihat neneknya panik menanti kelahiran adiknya. Ia kira ibunya akan meninggalkannya. Melihat pulasnya tidur Abian, Pak Alam sontak teringat dengan kejadian sore tadi. Ia pelaku tabrak lari. Bagaimana dengan wanita tadi.? Apakah ia meninggal, terluka parah, atau… Ah, untuk apa kupikirkan.. Toh, nanti akan jadi boomerang bagiku sendiri jikalau nati ia menuntut saya ke polisi.. Bisa kacau kebahagiaan keluarga saya.. Pak Alam pun tidak menghiraukan kejadian yang ia alami sore tadi. Ia sudah cukup bahagia dengan kelahiran anaknya. __@@__ “Abian….” Abian pun menoleh dan mencari sumber suara yang memanggil namanya. Dengan terengah-engah Ali menghampiri Abian. “Hei Abian, kamu punya adik baru ya?” Tanya Ali. “Iya.. Cantik lho.. Kami nantinya akan menjadi kakak beradik yang solid pasti… “ Jawab Abian sambil tertawa yang kemudian disambut dengan cibiran Ali. “Huuhh… pasangan kakak adik yang solid itu saya dan Kak Nurul..” “Eh kakakmu dua hari yang lalu jadi korban tabrak lari ya? Gimana dengan penabraknya? Ditangkep gak?” “Haduh… Kamu sih dua hari gak masuk kelas jadinya kuper.. Pelakunya gak bisa ditangkep gara-gara gak kelihatan nomor polisinya. Hujannya deras banget..” “Hmm.. Semoga cepetan sembuh ya kakakmu. Oh iya, besok kamu ke rumahku ya.. Lihat adik baruku.. nanti aku gantian ke rumahmu menjenguk kakakmu. Sekalian aku antar kamu pulang sama ayah nanti pake mobil..” “Okelah.. Abian Satria si anak manja…Hahahaha…” Ledek Ali sambil berlari menuju kelas tatkala bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Abian pun mengejar Ali yang masih terbahak-bahak tertawa karena sukses mengerjai sahabat yang baru dikenalnya sejak 6 bulan yang lalu. __@@__ Esoknya, sesuai perjanjian kemarin bahwa Ali akan mengunjungi rumah Abian untuk melihat adik baru Abian. Ali yang masih terasa asing dengan suasana rumah Abian berusaha untuk beradaptasi. Ia pun menyalami satu persatu penghuni rumah itu. “Yah, ini nih temen baru Abian yang rumahnya dekat dengan kantor Ayah.” Ujar Abian memperkenalkan Ali dengan Ayahnya. “Oh ini Ali, si anak seribu langkah yang sering kamu ceritakan?” Ujar Pak Alam sambil tersenyum. “Anak seribu langkah?” Tanya Ali bingung. “Iya Ali, kamu itu adalah anak seribu langkah karena setiap masalah yang kamu alami pasti kamu akan hadapi walau itu sulit bagimu dan kakakmu. Ya, seperti yang sering kamu ceritakan selama ini… Dan ayahku pun tertarik dengan kepribadianmu. Seperti cerita novel yang menjadi nyata katanya..” “Aduh.. Pintarnya anak Ayah sekarang, sudah pandai berbicara.” Ujar Pak Alam sambil mengusap kepala Abian. Abian pun terkekeh-kekeh mendapat pujian dari ayahnya. Ali hanya terpaku melihat kasih sayang yang Abian dapatkan dari ayahnya. Diam-diam ia iri. Ia tidak tahu siapa sosok ayahnya. Ibu tidak pernah menceritakan siapa dan dimana keberadaan ayahnya yang sudah pergi sejak ia berada 3 bulan dalam kandungan meninggalkan ibu dan kakaknya. “Nah nak Ali, nanti kita ke rumahmu ya. Om mau jenguk kakakmu. Kalau boleh tahu siapa ya namanya?” “Nurul, Om. Nurul Ariani AP” Tiba-tiba Pak Alam berkeringat dingin. Ia menjadi gugup, pucat, dan seperti ingin pingsan. “Lho, kenapa, Om? Om sakit ya?” “Ah tidak apa-apa. Hanya mendadak kepala Om agak pusing.” Abian yang sudah datang membawa kunci mobil menghentikan percakapan mereka. Pikiran Pak Alam pun seperti mengawang ke kejadian 9 tahun silam. Sebuah dosa besar yang ia lakukan. Dengan hati-hati ia memacu mobilnya menuju ke rumah Ali. __@@__ Sesampainya di rumah Ali yang sangat sederhana, Pak Alam memperhatikan dengan seksama setiap sudut rumah Ali. Ia mencari sebuah benda yang akan menguatkan argumentasi dirinya yang telah ia utarakan dalam hati selama perjalanan menuju rumah Ali. “ Assalamu’alaikum. Kak Vina, ini ada Abian dan ayahnya datang menjenguk Kakak..” Kata Ali ketika mereka telah sampai di rumah. “Wa’alaikumsalam. Iya Ali ajak mereka masuk ya.” “Ayo Om dan Ali mari masuk. Maaf tempatnya mungkin agak tidak nyaman.” Ajak Ali kepada Pak Alam dan Abian. “Dimana kakakmu Ali?” Tiba-tiba saja Vina keluar dari kamar dan menghampiri mereka. “Lho, kakak kok keluar kamar?” Wajah Vina yang pucat dan gugup memberanikan diri untuk keluar kamar tatkala mendengar suara Pak Alam. Dengan bantuan sebuah kayu yang menopang badannya, ia keluar menuju sumber suara yang sedang berbicara. Ketika ia melihat Pak Alam, ia tidak dapat menahan air matanya. “A..a..yah..” Ali dan Abian pun kaget. Terlebih lagi Ali, ia sangat heran kenapa kakaknya memanggil Pak Alam dengan panggilan ayah. “Kak Vina, ini Pak Alam. Ayahnya Abian..” Tanpa menghiraukan penjelasan Ali, Vina menyuruh Ali mengambil sebuah map yang ada di dalam lemari Vina. “Ali, lekas kau ambil map merah di dalam lemari kakak, cari di bagian paling atas.” Ali pun bergegas ke kamar Vina dan keluar dengan membawa sebuah map merah. “Ali.. Kau ingin tahu kan siapa ayahmu. Bukalah map itu.” Ali dan Abian segera melihat isi map merah, dan di sana terdapat akte kelahiran Ali dan Vina. Ali yang sudah pandai membaca melihat nama ayahnya ialah Alam Prabowo. “Alam Prabowo? Bukankah itu nama ayah?” Gumam Abian. “Coba lihat foto-foto yang ada di dalam map tersebut.” Suruh Vina kepada Ali. Ali pun melihat foto-foto yang di dalamnya terdapat Ibunya, Kak Vina, dan… “Om Alam? Ini foto Om Alam? Ibu juga ada sama kak Vina. Jadi Om Alam ini…” “Om Alam inilah ayah kita, Ali. Dia sudah meninggalkan kita sejak kau dan kakak kembaranmu di kandungan ibu. Dia yakin akan mendapatkan pekerjaan layak di kota dan mengeluarkan kita dari kemiskinan. Tapi nyatanya dia tidak pernah pulang. Oh salah… Dia pulang ketika ibu melahirkanmu dan kakak kembaranmu. Ia mengambil kakak kembaranmu karena istri mudanya belum bisa memberikan anak kepadanya. Apalagi wajah kalian tidak seperti layaknya anak kembar pada umumnya. Wajah kalian berbeda walaupun kembar. Dan kakak yakin, Abian inilah kakak kembaranmu…” Papar Vina. Pak Alam pun hanya bisa tertunduk. Sementara Ali dan Abian saling berpandangan. Ali merasa senang karena kini ia telah mengetahui siapa ayahnya. Dan Ali pun merasa kebahagiaannya bertambah dua kali lipat karena ia mempunyai saudara kembar, yakni Abian. Begitu pula Abian yang merasa sejak pertama bertemu sudah memiliki ikatan batin dengan Ali. Seperti sudah sangat lama mengenal Ali. “Maafkan Ayah, Nak? Ujar Pak Alam. “Ayah sudah menelantarkan kalian…” “Kami sangat kecewa dengan Ayah. Setiap malam Vina mendengar suara isak tangis ibu yang mendoakan keselamatan Ayah dan semoga Ayah sadar dan kembali kepada kami.. Ibu berjuang sendiri menopang kehidupan kami. Penderitaan Ibu ketika mengandung Ali dan Abian, tapi dengan seenaknya saja Ayah datang mengambil Abian dan membawanya ke kota. Setelah Ali bermumur 2 tahun, kami pindah ke kota untuk mencari Ayah. Tapi sayangnya kota ini terlalu luas untuk mencari seorang ayang yang telah menelantarkan anak istrinya.” Pak Alam pun bersimpuh di hadapan Vina sambil menangis. “Maafkan Ayah, Vina. Ayah sangat menyesal… Selama bertahun-tahun Ayah dihantui rasa berdosa kepada kalian..” Lantas kenapa Ayah tidak mencari kami?” Potong Vina. “Sudah 6 tahun kami di sini, tapi sama sekali tidak terdengar kabar Ayah ,mencari kami.. Jadi, untuk apa Ayah menyesali dosa jika ternyata ayah tidak mau menebusnya dengan mencari kami dan memberikan nafkah kepada kami. Sudahlah, kami tidak perlu omong kosong lagi. Sebaiknya Ayah pergi saja ke rumah Ayah. Toh, putri baru Ayah pasti sedang menunggu kasih sayang Ayah di rumahnya..” Ali dan Abian hanya terdiam. Mereka mengerti dengan kemarahan Vina. Sudah bertahun-tahun Ali dan keluarganya terlunta-lunta mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sedangkan orang yang bertanggung jawab menafkahi mereka malah pergi dengan orang lain. “Sekarang silakan Ayah pergi. Kami tidak ingin melihat air mata palsu Ayah..” Ujar Vina sambil membukakan pintu luar dengan lebar. “Tapi Kak, Om Alam ini ayah kita. Ali senang sudah tahu siapa ayah Ali dan ternyata Abian ini kakaknya Ali juga. Jadi sudah lengkap keluarga kita, ada ayah, ibu, kak Vina, dan kak Abian.” Vina terdiam kemudian mendekati Ali yang sudah terisak-isak menangis. Vina membelai Ali dan juga memberikan isyarat kepada Abian untuk mendekati mereka. Vina pun memeluk kedua adiknya. Abian pun ikut larut dalam kesedihan kakaknya. Abian pun berkata kepada Vina, “Kak Vina, kakak jangan marah ya kepada Ayah. Ayah sayang dengan kalian. Walau Abian masih kecil, tapi Abian tahu jika Abian itu punya saudara kembar. Abian pernah denger pembicaran Ayah dan Ibu. Ayah sudah mencari kalian, Kak. Percayalah dengan Abian. Abian tidak bohong.” Vina pun menatap Pak Alam yang sudah sembab matanya. Perlahan ia mendekati Pak Alam dan memeluk ayahnya. “Maafkan Vina, Yah.” “Anakku Vina, Ayah sangat minta maaf kepada ibumu, Ali, dan juga Vina. Ayah berjanji tidak akan menelantarkan kalian lagi. Sekarang kalian ke rumah Ayah ya?” Vina pun mengangguk. Mereka pun pergi menuju rumah Pak Alam. __@@__ Sambutan hangat dari istri Pak Alam dan juga ibu mertuanya kepada Ali dan Vina pun semakin menguatkan Vina bahwa ayahnya memang sudah berubah. Istrinya sangat baik dan ia menceritakan segala hal yang telah ia dan suaminya lakukan. Ia mengungkapkan maafnya karena telah merebut Pak Alam dari ibunya karena ia pun tidak tahu jika keadaan hidup Pak alam sangat rumit. Ia hanya tahu Pak Alam itu duda beranak satu dan istrinya meninggal ketika melahirkan. Oleh karena itu Pak Alam mengambil Abian sebagai bukti sebelum ia menikahi istri mudanya ini. Sementara Ali dan Abian semakin akrab dan mereka sepertinya menyukai Putri. Vina merasa senang dengan keadaan hidupnya sekarang. Kini, kaki Vina sudah bisa berjalan normal walau masih dibantu dengan tongkat. Pak Alam sudah menceritakan siapa yang sudah membuat kaki Vina cedera. Ia sudah membawa Vina ke dokter untuk perawatan kaki Vina. Namun, sampai detik ini ia tidak mau ambil pusing dengan urusan siapa yang menabraknya. Toh, dengan kejadian ini ia bisa menemukan ayah dan adiknya. Sekarang ia sedang menunggu kedatangan ibunya dari Yaman. Ibunya sudah mengetahui berita gembira ini dan kepulangannya dipercepat 1 bulan. Dan kini tinggal 2 bulan lagi ibunya akan pulang ke rumah. Akhirnya mereka bisa berkumpul dengan keluarga yang utuh. 130312/22.52
»»  READMORE...